Soeharto kemudian bertanya kepada mereka, “Tetapi siapa pasangan saya?” saya balik bertanya kepada mereka. Soeharto tidak punya calon.
Ibu Prawiro meyakinkannya, "Percayakan itu kepada kami."
“Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?” tanya Ibu Prawiro. Soeharto mengangguk, mengiyakan.
Dia kemudian menyarankan Siti Hartinah, teman sekelas adik Soeharto di Wonogiri. Meskipun pada awalnya merasa ragu, namun Ibu Prawiro meyakinkannya bahwa dia akan menyelesaikan masalah tersebut.
Soeharto, meskipun awalnya bingung, merasa terdorong oleh keinginan untuk membentuk keluarga. Dia menyadari pentingnya pernikahan dalam agama dan budaya, serta menyadari bahwa langkah ini adalah langkah yang wajar di usianya.
“Tetapi bagaimana bisa?” pikir Soeharto.
“Apa dia akan mau?” tanyanya.
“Apa orangtuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran,” sambungnya.