Menurut Asep, keributan yang terjadi di Babakan kemarin bukanlah soal penolakan ibadah umat katolik, tapi lebih pada kesalahpahaman dalam memaknai tenggang rasa di tengah bermasyarakat umum.
"Kan ini kegiatannya baik sebenernya, hanya yang tinggal itu masalahnya adalah tenggang rasanya, pemilihan jamnya kegiatan berlangsung, suaranya diatur sedemikian rupa, kemudian kita juga harus paham sedekat apa antara lokasi kegiatan dengan sekitarnya, dan sekitarnya ini beragama apa," jelasnya.
Dilanjutkan dia, pendirian Kota Tangsel sendiri diinisiasi oleh semua kelompok agama. Sehingga menurutnya, tak ada lagi dikotomi antara pribumi dan pendatang, muslim dan bukan muslim. Semua warga, kata dia, memiliki hak yang sama.
"Alhamdhlillah sekarang semuanya sudah bersatu lagi saling menghargai, dan tokoh masyarakatmya para kyai kita juga sudhs kumpulka semuanya mendukung. Ini luar biasa, dan mudah-mudahan ini menjadi terakhir lah ada kejadian seperti ini di Tangsel," tandasnya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.