Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menganggur dan Melarat, Kisah Kehidupan Soeharto Sebelum Jadi Tentara

Farhan Muhammad Gunawan , Jurnalis-Sabtu, 08 Juni 2024 |06:31 WIB
Menganggur dan Melarat, Kisah Kehidupan Soeharto Sebelum Jadi Tentara
Soeharto (Foto: Wikipedia)
A
A
A

SOEHARTO pernah 32 tahun memimpin Indonesia. Presiden kedua RI itu menguasai seluruh lini kehidupan bangsa dan kaya raya. Namun sedikit yang tahu kalau kehidupan masa kecil sang penguasa Orde Baru tersebut agak miris karena serba kekurangan.

Sebelum masuk ke dunia militer atau jadi tentara, Soeharto memang hidup dalam masa sulit.

Keterbatasan ekonomi lah yang membuat Soeharto tidak dapat melanjutkan kembali jenjang pendidikannya setelah lulus dari sekolah schakel Muhammadiyah.

Seharto masih ingat saja akan apa yang dikatakan sang ayah waktu itu. “Nak,” katanya, “tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Dari sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja. Dan kalau sudah dapat, insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”

 BACA JUGA:

Sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan tanpa adanya bantuan dari orang yang memiliki kedudukan atau pengaruh yang besar saat itu.

"Saya berusaha kian kemari mencoba mendapatkan sumber nafkah. Tetapi tidak juga berhasil. Akhirnya saya kembali ke Wuryantoro, tempat banyak kenalan yang saya harapkan akan bisa membuka jalan," demikian penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

Benar juga. Setelah sekian banyak jalan yang Soeharto tempuh, akhirnya dia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Walaupun dia tidak begitu menyukai dengan pekerjaan tersebut, Soeharto anggap lebih baik melakukannya daripada menganggur di tengah suasana yang muram.

Soeharto mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap dengan kain blangkon dan baju beskap. Di kantor-kantor lurah kami menampung permintaan para petani, pedagang kecil dan pemilik warung yang menginginkan pinjaman.

 BACA JUGA:

Sebenarnya Soeharto sendiri sudah paham betul mengenai kebutuhan orang-orang kecil itu sewaktu dia bersama Pak Prawirowihardjo tempo hari dan sewaktu membantu Pak Hardjowijono dan Pak Darjatmo. Tetapi Soeharto tidak banyak bicara. Dia merasa pada tempatnya kalau lebih banyak mendengarkan lagi.

Boleh dibilang setiap malam dirinya mengajak seorang teman waktu itu yang bernama Kamin untuk belajar pembukuan. Mantri Bank Desa itu mengakui, bahwa otak Soeharto encer. Tidak sampai dua bulan Soeharto sudah menguasai seluruh pembukuan. Waktu itu saya memakai sepeda hitam. Kamin memakai sepeda hijau. Soeharto selalu disuruh Kamin mendayung sepeda di muka. “Ayo Mas Harto yang di depan, saya di belakang”, kata Kamin.

Sekali waktu Soeharto meminjam kain pada bibi karena kainnya sendiri sudah usang, tak patut lagi dipakai mendampingi klerek Bank Desa. Pada suatu hari Soeharto bernasib jelek. Waktu turun dari sepeda yang sudah reot, kain yang dia pakai tersangkut pada per sadel yang menonjol ke luar dan sobek.

Soeharto dicela oleh klerek yang saya dampingi. Padahal dia tidak bersalah, cuma jalan hidup Soeharto saja yang demikian. Tetapi Bibi juga memarahi dia.

Soeharto dibentaknya, dengan mengatakan, kain itu adalah satu-satunya kain yang baik. Tak ada lagi yang lainnya yang bisa diberikan, sekalipun mungkin saja sebenarnya ia masih mau menolong Soeharto.

"Dan kejadian ini merupakan perpisahan dengan tempat saya bekerja. Tidak begitu menyesal, sebab memang saya tidak mendapat kesenangan bekerja di sana. Cuma waktu berjabatan tangan dengan Kamin, saya mesti menundukkan muka. Terharu meninggalkannya," jelas dia.

"Saya menganggur lagi, tetapi saya tidak putus asa. Saya cari kesempatan yang lebih baik. Saya pikir, kali ini saya akan mencoba mengadu nasib di Solo. Saya benar-benar mendambakan pekerjaan. Apa saja, asal halal," ungkap dia.

Ada seorang temaan yang menganjurkan untuk melamar ke Angkatan Laut Belanda. Tetapi lowongan yang ada di sana ialah sebagai juru masak. Soeharto pikir, biarlah itu nanti saya jadikan sebagai cadangan yang paling akhir.

Di Solo pun ternyata tidak ada pekerjaan. Maka Soeharto kembali ke Wuryantoro. Waktu itu, dia isi dengan pekerjaan gotong royong, membangun sebuah langgar, menggali parit, dan membereskan lumbung. Tetapi setelah itu, hari depan Soeharto gelap lagi.

(Salman Mardira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement