Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal Supit Urang, Strategi Perang Soedirman Gabungkan Taktik Majapahit dan Modern

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis-Kamis, 27 Juni 2024 |05:00 WIB
Mengenal Supit Urang, Strategi Perang Soedirman Gabungkan Taktik Majapahit dan Modern
Jenderal Sudirman (Foto: istimewa/Okezone)
A
A
A

Melansir dari berbagai sumber, Jenderal Soedirman disebut mempunyai kharisma dan wibawa tersendiri, kepribadiannya ini setidaknya tidak saat merintis karier di PETA dimilikinya.

Soedirman kecil diasuh dan diangkat anak Wedana (Camat) Rembang Raden Tjokrosoenarjo. Saat itulah sejak menjadi anak angkat Asisten Wedana ia kecil bisa bersekolah yang hanya bisa dinikmati anak-anak priyai Jawa yaitu Hollandsche Inlandsche School (HIS).

Sebagaimana dalam buku ‘Sang Komandan’ Karya Petrik Matanasi, setelah lulus dari HIS, Soedirman kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Yaman Siswa dan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) Muhammadiyah, Solo. Tetapi dia tak sampai lulus dikarenakan kendala oleh biaya.

Soedirman sangat aktif dalam berbagai kegiatan sejak duduk dibangku sekolah termasuk sebagai pengurus kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang dijalankan oleh organisasi Islam, Muhammadiyah.

Dahulu ia sempat menjadi Guru di Wirotomo saat berusia 20 tahun dan pernah sebagai kepala Sekolah. Ia juga pernah menjadi tokoh Pemuda Muhammadiyah dan memimpin Hizbul Wathan cabang Cilacap.

Soedirman tetap mengabdi menjadi guru dan aktif di Muhammadiyah meskipun gaji yang didapatkanya hanya 12,5 golden. Alhasil dari situlah kewibawaan dan kharismanya terbentuk.

Sejak muda ia sudah aktif di Hizbul Wathan dan menjadi kader, disitulah dirinya militansinya ditempa dan sudah mulai tertanam nilai-nilai cintah tanah air.

Namun demikian situasi berubah usai Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati 1942. Saat Jepang membuka PETA, Soedirman mulai tertarik dengan militer.

Berlatar belakang kepala sekolah, Soedirman akhirnya bisa sekolah perwira di PETA Bogor. Berkat pendidikan keras di sekolah perwira PETA di Bogor, lahirlah “Soedirman baru” yang sudah mengerti betul sejumlah metode-metode perang ala Jepang dan menjadi komandan Daidan (Batalyon) di Kroya, Cilacap.

Akan tetapi PETA dibubarkan seiring menyerahnya Jepang pada sekutu. Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Soedirman meleburkan dirinya ke Badan Keamanan Rakyat (BKR, cikal bakal TKR/TNI) di Banyumas dengan pangkat kolonel.

Torehan prestasi pertamanya adalah salah satu perwira tentara republik, adalah sanggup mengklaim sejumlah senjata Jepang setelah melakukan pelucutan tanpa pertumpahan darah di Banyumas. Pelucutan damai yang termasuk jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan beberapa tempat lain dengan cara kekerasan.

Soedirman meninggal pada 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun, karena penyakit TBC yang dideritanya tidak kunjung pulih.

(Fakhrizal Fakhri )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement