RAJA SANJAYA membawa kemajuan pada Kerajaan Mataram. Sektor pertanian, agama, diperhatikan sedemikian rupa hingga berujung kepada kesejahteraan yang dialami rakyatnya. Bahkan Raja Sanjaya juga berhasil mengembangkan agama Hindu aliran Siwa.
Prasasti Canggal bait 7 dan 12 berangka tahun 732 menjelaskan bagaimana perkembangan agama Hindu Siwa di masa Sanjaya begitu pesat. Perkembangan itu diiringi dengan memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya.
Namun di balik kemajuan Mataram itu ada satu sektor yang dilupakan oleh Sanjaya, yakni sektor pertahanan. Alhasil konon ada yang beranggapan bahwa rentannya pertahanan membuatnya berhasil digulingkan dari jabatan raja. Konon peristiwa itu terjadi di tahun 760 oleh pemberontakan Dyah Pancapana Rakai Panangkaran.
Dikutip dari buku "Hitam Putih Kekuasaan Raja-Raja Jawa : Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita", Rakai Panangkaran dikisahkan merupakan penganut agama Buddha. Dyah Pancapana Rakai Panangkaran sebelum menjadi raja Mataram kedua usai Sanjaya bertahta merupakan penguasa daerah Panangkaran.
Beberapa sumber salah satunya dari Sejarawan Prof. Slamet Muljana menjelaskan, bahwa Dyah Pancapana telah melakukan serangan terhadap Ratu Sanjaya. Namun perihal serangan yang dilakukan tidak dijelaskan begitu detail.
Dugaan bahwa serangan yang dilakukan Dyah Pancapana terhadap Raja Sanjaya karena ingin mengembangkan agama Buddha di wilayah di Medang. Terbukti sesudah menggulingkan kekuasaan Sanjaya, Rakai Panangkaran yang menjabat sebagai raja Medang bergelar Sailendra Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran pada tahun 775-760 tersebut membangun beberapa candi beraliran Buddha Mahayana di dataran Prambanan, yakni Candi Tarabhavanam (Candi Kalasan), Candi Sari (candi yang dikaitkan sebagai wihara pendamping Candi Tarabhavanam), Candi Manjusrigrha (Candi Sewu), Candi Lumbung, dan Abhayagirivihara (kompleks Ratu Baka).