Sementara head to head Anies kontra Ahok, Anies kantongi dukungan 52% dan Ahok 42% atau selisih sekitar 10%.
Ketika Anies dan Ridwan Kamil head to head, margin selisih keduanya sekitar 11%. Anies meraih elektabilitas 50,1% dan Ridwan Kamil 38,8%. Begitu Ridwan Kamil dan Ahok dihadapkan, keduanya sama mendapatkan dukungan 44,7%.
Ridwan Kamil, menurut Burhanuddin cenderung inklusif daripada Anies dan Ahok. Ridwan Kamil bisa mendapatkan limpahan suara dari pendukung kedua Anies maupun Ahok ketika salah satunya tidak maju. Belum lagi adanya faktor Ahok pernah tersandung kasus penistaan agama pada 2016-2017.
"Itu yang membuat suara Ahok semacam flat, tidak mampu menarik basis pemilih, terutama muslim, konservatif di Jakarta," ujarnya.
Merujuk survei yang ada, Burhanuddin menilai Ridwan Kamil menjadi sosok yang tidak mudah untuk dikalahkan. Kendati, diakuinya Partai Golkar masih memiliki kekhawatiran terhadap Ridwan Kamil jika maju Pilgub Jakarta.
"Kan, muncul kekhawatiran dari internal Partai Golkar, Ridwan Kamil tidak kompetitif. Kalau dilihat dari atas permukaan, iya, sepertinya Ridwan Kamil kalah dengan mudah. Apalagi, di bawah Ahok dan jauh di bawah Anies. Tapi, data ini menunjukkan Ridwan Kamil tidak semudah itu (dikalahkan) kalau misalnya maju," ujarnya.
Survei Indikator dilakukan pada 18-26 Juni 2024 dengan melibatkan 800 warga Jakarta yang telah memiliki hak pilih sebagai responden. Sampel berasal dari seluruh kota di Jakarta yang terdistribusi secara proporsional.
Pemilihan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dengan asumsi metode simple random sampling, toleransi kesalahan survei (margin of error) sekitar 3,5% pada tingkat kepercayaan 95%.
(Arief Setyadi )