Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

4 Karomah KH. Hasyim Asy'ari yang Bikin Takjub

Rina Anggraeni , Jurnalis-Kamis, 25 Juli 2024 |17:28 WIB
4 Karomah KH. Hasyim Asy'ari yang Bikin Takjub
Ilustrasi 4 karomah KH Hasyim Asyari (Foto:Freepik)
A
A
A

Lalu Kang Tahmid bergegas ke Ndalem Kiai Hasyim dekat masjid pondok. Kang Bahruddin mengingatkan agar Kang Tahmid shalat dulu. Namun, Kiai Tahmid malah menundanya, nanti saja katanya.

Saat di Ndalem Kiai Hasyim bertanya pada Kang Tahmid, apakah sudah shalat apa belum. Kang Tahmid berbohong mengatakan sudah. Kiai Hasyim lalu sontak meminta Kang Tahmid shalat dulu dengan nada separuh membentak dari tempat duduk beliau.

3. Digoyang-goyang, Rumah Doyong (Miring) Bisa Tegak Lagi

KBeliau ini bercerita tentang salah satu karomah Kiai Hasyim. Suatu saat si Thaib muda merenung di senggangnya waktu.

Tiba-tiba Kiai Hasyim datang dan bertanya, “Ada apa, Nak, kok melamun?,”. Ahmad Thaib menjawab, “Itu, rumah saya doyong (miring)”. Akhirnya Kiai Hasyim mengajak Ahmad Thaib melihat rumahnya yang miring itu.

Sesampainya di sana, Kiai Hasyim hanya menggoyang-goyang salah satu bagian rumah yang miring. Dilalah, rumah itu lurus kembali, alias berdiri tegak lagi. Ahmad Thaib terkejut sambil senang.

Terkejut karena seperti ajaib sekali, rumah digoyang-goyang saja, yang asalnya miring menjadi lurus. Karena kalau dibenarkan tukang bisa memakan biaya mahal dan tentunya selesai dalam berhari-hari.

Di balik semua itu, ia merasa senang dan gembira, rumahnya bisa berdiri tegak lagi. Kata Mbah Ahmad Thaib begitulah cara beliau menyenangkan santri, kadang tidak terduga.

4. Menyumbat Mesin Giling Pabrik Gula Tjoekir

Satu lagi kesaksian Kiai Abu Bakar tentang karomah Kiai Hasyim Asy’ari. Santri pernah dibuat heran berkeping-keping, takjub, plus ngeri. Dalam bahasa Kiai Abu Bakar, “Kok bisa ya”.

Di depan Tebuireng pada masa penjajahan Belanda, ada rel kereta yang biasa dilalui kereta komersil Jombang-Kediri, Jombang Surabaya dll. Namun terkadang juga bisa dilalui oleh lori yang mengangkut tebu-tebu untuk digiling di Pabrik Tjoekir.

Suatu saat lori yang mengangkut tumpukan tebu siap giling, terguling. Tebu-tebu berhamburan. Santri yang mengetahui itu, berhamburan mengambil tebu itu. Lalu mandor Belanda datang dan memukuli mereka.

Sejak saat itu, Belanda membiarkan santri mengambil tebu gratis dan dibiarkan saja. Hal itu berlangsung sampai Pabrik diambil alih Jepang, lalu dinasionalisasi oleh pemerintahan Soekarno.

(Rina Anggraeni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement