Sayangnya tidak semua sejalan dengan instruksi pemerintah. Pun begitu, setidaknya elemen-elemen laskar dan badan perjuangan lain di luar TKR bisa “dirangkul” Letkol Moeffreni, sampai jabatannya digantikan Soeroto Koento, eks Kepala Staf Resimen V.
“Beda dengan Moeffreni, Soeroto Koento itu kekeuh dengan kemiliteran. Jadi enggak terlalu bisa kompromi dan merangkul seperti Moeffreni. Makanya kemudian dia diculik, tidak lama setelah gantiin Moeffreni dan hilang dengan dugaan dibunuh elemen laskar,” timpal penggiat sejarah komunitas Front Bekassi Beny Rusmawan kepada Okezone.
Belum lagi berbagai insiden yang terjadi di Bekasi alias Front Timur Jakarta kala itu. Mulai dari pembantaian serdadu Kaigun (Angkatan Laut Jepang) di tepi Kali Bekasi, hingga pembantaian yang nyaris serupa terhadap serdadu sekutu yang sempat selamat pasca-Pesawat Dakota jatuh di Rawagatel, Cakung.
Sebagai balasannya, Bekasi dijadikan lautan api oleh sekutu pada 13 Desember 1945. Selain harus meladeni pertempuran kecil di Bekasi melawan Inggris maupun NICA, Moeffreni sempat turut membantu Divisi II Cirebon dalam penumpasan Laskar Merah, Februari 1946.
Periode Oktober-November 1946, Letkol Moeffreni kena mutasi dari jabatan Komandan Resimen V Cikampek, ke Resimen XII Cirebon menggantikan Kolonel Soesalit Djojoadhiningrat. Sementara Resimen V diisi Letkol Soeroto Koento.
Tugas besar pertamanya adalah pengamanan Perjanjian Linggarjati (10-15 November 1946). Tugas besar setelah sebelumnya pada 21 Juni 1946 di Cirebon, Moeffreni melepas masa lajang di usia 26 tahun dengan menikahi Elly Koesmaningsih, seorang putri Wedana Cirebon Moehammad Sidik.
Selain itu Moeffreni juga bertanggung jawab atas pengamanan wilayah Bandung Timur. Tugas baru lagi juga diemban Letkol Moeffreni untuk jadi Direktur Pendidikan Perwira Divisi Siliwangi di Garut, medio April 1947.
Karena situasi yang kian chaos di Jawa Barat, Moeffreni sempat tertangkap Belanda dan dibuang ke Nusakambangan. Baru pada Januari 1950 Moeffreni dibebaskan dalam rangka implementasi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949.
Kariernya di TNI tetap diteruskan meski sempat terkena re-ra alias reorganisasi dan rasionalisasi yang membuat pangkatnya turun dari letkol jadi mayor. Moeffreni ditempatkan di Resimen Bogor sebagai kepala staf, kemudian setahun kemudian menjabat caretaker (pengganti sementara) Gubernur Militer di Bandung.
Jabatan itu pun tidak berlangsung lama karena kemudian Moeffreni dipindah ke Jakarta dan bertemu mantan sahabatnya semasa pendidikan PETA, Jenderal Ahmad Yani. Moeffreni dipercayakan jabatan Wakil Asisten V Kepala Staf Teritorial TNI AD di Mabes AD, Jalan Merdeka Barat.
Jabatan ini hanya dijalani Moeffreni sampai 1960 saja dan setelah itu meminta resign alias mengundurkan diri dari kedinasan TNI. Selepas kehidupan militer, Moeffreni sempat mencicipi dunia politik dengan jadi anggota DPRD dari Fraksi ABRI, lantas anggota MPR.
Moeffreni menghembuskan nafas terakhir pada 27 Juni 1996 di RSPP Jakarta karena sakit. Jenazah sang patriot putra Betawi itupun dikebumikan, bukan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, melainkan di TPU Tanah Kusir, sesuai wasiatnya sebelum tiada.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.