"Istirahat tapi nggak bisa benar-benar tidur dan nyandar di batu pakai tongkat trekking. Setahu saya yang saya dudukin itu jeglong, tapi waktu bangun sudah ada gundukan tanah. Di situ saya liat sunrise, nggak bisa foto karena HP mati dari Minggu,”ungkapnya.
Namun dia terkejut saat melihat seekor burung muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Burung tersebut seakan memberitahu jalan untuk pulang.
"Saya lihat ke depan ada burung, saya ngerasa (burung) diarahin ke bawah, saya ikutin, dia turun aku turun. Dia naik aku naik. Tapi jalan yang dipilih sangat jelek, jadi saya sampai luka-luka,"tuturnya.
Karena dia masih tak menemukan jalan untuk pulang, dia memilih untuk kembali naik. Dia hanya memakan roti sobek yang tinggal 6 potong dan botol air mineral 1,5 liter yang dia isi ulang dari mata air untuk bertahan hidup alias survival.
"Paginya makan, minum, lihat sunrise, ditunjukin lagi sama burung, ada tiga ekor. Jengkelnya burung itu ngarahin ke yang akar-akar semua, kalau akar diinjak kan patah, kalau patah itu saya jatuh," ungkapnya.