Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bertaruh Nyawa! Kisah Jenderal Kopassus Charles Yohanes Alling Bebaskan 347 Sandera KKB Papua

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Jum'at, 08 Agustus 2025 |17:35 WIB
Bertaruh Nyawa! Kisah Jenderal Kopassus Charles Yohanes Alling Bebaskan 347 Sandera KKB Papua
Kisah Jenderal Kopassus Charles Yohanes Alling Bebaskan 347 Sandera KKB Papua/ist
A
A
A

JAKARTA –   Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menaikan pangkat Kolonel Charles Yohanes Alling menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen). Penerima penghargaan Sangkur Perak Kopassus ini mendapat penugasan baru bersama 41 Perwira Tinggi (Pati) TNI dari 3 matra.

Charles Yohanes Alling sebelumnya menjabat sebagai Kabag Dukmin dan Protmen Ro TU Protokol Setjen Kemhan, dan saat ini promosikan sebagai Karo TU Protokol Setjen Kemhan.

Abituren Akmil 2001 ini banyak menjabat posisi strategis. Dia juga mempunyai segudang prestasi bersama Korps Baret Merah.

Salah satunya adalah keberhasilan operasi pembebasan ratusan sandera di Tembagapura, Papua yang  dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 17 November 2017.

Saat itu, kelompok teroris di bawah pimpinan Tenny Kwalik dan Ayub Waker menyerbu permukiman warga yang berada di tiga kampung yakni, Kampung Kimbeli, Kampung Banti dan Kampung Longsoran. Mereka membawa sandera baik masyarakat pendatang maupun warga lokal ke lapangan yang berada di Kampung Utikini, Kabupaten Mimika.

Anggota KKB Papua menyandera warga dan tidak mengizinkan masyarakat untuk beraktivitas keluar kampung untuk membeli makanan. Akibatnya, tidak sedikit dari sandera yang terpaksa memakan daun-daunan untuk bertahan hidup.

Pemerintah pun menggelar operasi militer dengan membentuk Tim Maleo. Tim ini terdiri dari 13 prajurit-prajurit pilihan Korps Baret Merah yang memiliki kemampuan khusus.

Mereka adalah, Sertu Ricci Broury Papua Jaya, Lettu Inf. Syukma Putra Aditya, Lettu Inf. Agung Damar, Sertu Faisal Tanjung, Praka Fitra Musa, Praka Salim, Praka Widiantoro.  Selanjutnya, Serka Rinaldo Oscar, Praka Eko Yudhi Afriansyah, Praka Syadam Hosen, Praka Iqbal, Praka Densi, Praka Sholeh.

Melansir buku berjudul “Tim Maleo: Operasi Pembebasan Sandera Tembagapura 17 November 2017” yang ditulis Dansat 81 Kopassus Letkol Charles Aling, Tim Maleo Kopassus yang diback up tim 751/Raider mendapat tugas menguasai Kampung Kimbeli dan Banti 2 tempat masyarakat disandera.

“Kalian adalah satuan Kopassus. Ingat tugas operasi adalah kehormatan. Lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas. Intinya tugas harus berhasil jangan sampai ada korban masyarakat,” kata Dansatgasban Intel-15 Kolonel Inf. Agung Winatha, dikutip, Jumat (8/8/2025).

 

Medan yang sulit karena berlumut dengan jurang di sisi kanan kirinya tak menyurutkan para prajurit terbaik tersebut untuk menyerah.

Setelah melalui perjalanan panjang yang menyulitkan dan penuh tantangan, para prajurit Kopassus akhirnya tiba di titik yang dituju pada 15 November sesuai dengan rencana. Namun, rencana penyerbuan gagal lantaran ada sejumlah tim yang belum tiba di lokasi sasaran.

Di tengah guyuran hujan deras dan cuaca yang sangat dingin, para prajurit Kopassus harus menunggu waktu untuk membebaskan sandera.

Kondisi yang dialami para prajurit semakin parah karena kelaparan akibat bekal makanan yang dibawa habis dalam perjalanan. Meski begitu mereka tidak menyerah dan memilih untuk meminum air hujan dan air sungai untuk bertahan hidup.

”Malam itu lengkaplah ujian kami perbekalan habis dan diguyur hujan deras. Tapi kami tetap waspada. Kami saling menjaga agar tidak lengah karena stamina kami turun,” ujar Komandan Tim Pembebasan Sandera (Dantim Basra) Tembagapura Lettu Syukma Putra Aditya.

Dengan senyap mereka terus memantau pergerakan para penyandera. Hingga waktunya tiba, tepat pada hari H dan jam J, dimulai dentuman mortar 81 para prajurit mulai melakukan penyeranganan ke Kampung Kimberli untuk membebaskan sandera.

 

Mendapat serangan mendadak,  OPM yang tidak mengira bakal diserang langsung berhamburan menyelamatkan diri.

Mereka tidak menyangka jika TNI akan membelah gunung untuk mencapai sasaran dan tidak menggunakan jalan setapak yang biasa digunakan masyarakat. Baku tembak pecah antara Kopassus dengan OPM selama 30 menit.

Kerja keras prajurit Kopassus pun membuahkan hasil, mereka berhasil menguasai Kampung Kimbeli, Kampung Banti dan perkampungan lainnya dari tangan OPM serta membebaskan ratusan sandera.

“Sungguh, kala itu saya tidak merasakan jemari kaki saya yang lecet dan tidak merasakan jeritan perut yang belum terisi apa-apa selain air sungai yang kami minum sore kemarin,” tandasnya.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement