Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Transisi ke Energi Hijau, China Belum Bisa Tinggalkan Penggunaan Batu Bara

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 10 Oktober 2025 |16:07 WIB
Transisi ke Energi Hijau, China Belum Bisa Tinggalkan Penggunaan Batu Bara
Ilustrasi.
A
A
A

Selain itu, impor batu bara China naik ke rekor sekitar 542,7 juta ton pada 2024, meningkat sekitar 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Volume impor laut sendiri melebihi 400 juta ton menurut berbagai pengamat pasar. Peningkatan impor ini tidak hanya memengaruhi pasar batu bara global, tetapi juga mencerminkan bahwa kebutuhan dalam negeri dipenuhi dari luar negeri alih-alih mengurangi konsumsi secara struktural, demikian dilansir The Singapore Post, Jumat, (10/10/2025). 

Fenomena ini menciptakan kondisi yang dikenal sebagai "carbon lock-in", di mana pembangunan aset energi berbasis batu bara yang kapital intensif dan berumur panjang, membuat upaya pengurangan emisi di masa depan menjadi lebih rumit dan mahal. Retiring pabrik batu bara baru sebelum masa operasinya usai dapat menimbulkan kerugian ekonomi signifikan bagi utilitas dan investor.

Kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor politik dan ekonomi. Model pendapatan daerah, prioritas kestabilan industri, serta aturan akuntansi perusahaan listrik mendorong persetujuan proyek-proyek batu bara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial jangka pendek.

Dari sisi kesehatan, penggunaan batu bara berdampak pada kualitas udara dan menjadi faktor risiko penyakit kronis seperti gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular. Berbagai studi ilmiah telah menghubungkan emisi batu bara dengan peningkatan angka kematian dini akibat polusi udara di sejumlah wilayah China.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement