Munir mengaku pernah membeli kripto pada 2012 yang kemudian dijual pada 2015 untuk mendanai ISIS. Menurutnya, saat itu aturan kripto belum terlalu ketat.
"Untuk masuk ke dunia kripto saat itu sangat mudah. Tidak perlu KTP dan sejenisnya. Sangat longgar," tuturnya.
Munir menambahkan, kelompok teroris tidak mati begitu saja. Sel-selnya masih ada dan mereka butuh simpanan dana. Sementara tempat yang paling aman di kripto. Terlebih valuasi kripto kan semakin lama semakin tinggi.
Bahkan, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang merupakan sel ISIS juga masih menggunakan kripto. "Apalagi mereka punya orang-orang tertentu yang mengerti tentang kripto," ujarnya.
Game online dan judi online, kata Munir, juga kerap dipakai kelompok teroris untuk pendanaan. Untuk itu, ia berharap pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatasi persoalan tersebut.