Proses pengolahan air memerlukan waktu sekitar satu hingga dua jam hingga menghasilkan air bersih.
“Air sungai ditampung terlebih dahulu, kemudian diproses melalui sistem penyulingan sehingga menghasilkan air bersih yang layak digunakan,” terangnya.
Dalam satu hari, mobil sanitasi LPBI PBNU mampu memproduksi hingga 2.000 liter air bersih. Air tersebut dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga keperluan domestik lainnya. Warga pun datang membawa berbagai wadah penampung, seperti galon, jerigen, dan ember.
Beny menegaskan bahwa ketersediaan air bersih pascabencana sangat krusial untuk mencegah munculnya berbagai penyakit.
“Kami berharap keberadaan mobil sanitasi ini dapat membantu warga, karena penggunaan air kotor sangat berisiko menimbulkan penyakit,” katanya.
Pihaknya juga akan memperluas jangkauan layanan mobil sanitasi air bersih ke wilayah lain yang juga terdampak bencana, seperti Padang Pariaman dan Kabupaten Agam.
‘’Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan LPBI PBNU dalam menjaga kesehatan dan keselamatan warga pascabencana,’’pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )