Protes meletus pada 28 Desember akibat runtuhnya mata uang Iran, dan sejak itu berkembang menjadi tantangan langsung terhadap kepemimpinan ulama negara tersebut. Putra Mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi, menyerukan kepada warga Iran untuk merebut kembali ruang publik dan berkumpul di bawah simbol-simbol nasional yang ada sebelum Revolusi Islam 1979.
Keputusan untuk meningkatkan eskalasi militer pada akhirnya bergantung pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahkan ketika ancaman Teheran muncul beberapa bulan setelah pertahanan udaranya rusak parah selama perang 12 hari dengan Israel. Militer AS menyatakan pasukannya di Timur Tengah tetap siaga penuh untuk membela personel, sekutu, dan kepentingan Amerika.
(Rahman Asmardika)