LIBYA – Saif al-Islam Gaddafi, putra mahkota dari mendiang pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, dikabarkan tewas. Saif tewas diserang empat orang bersenjata tidak dikenal yang menerobos masuk ke rumahnya.
Namun, rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut belum dipublikasikan kepada umum, demikian laporan Kantor berita Saif al-Islam pada Selasa 3 Februari 2026 dilansir Reuters.
Meskipun tidak memegang jabatan resmi, Saif al-Islam pernah dianggap sebagai sosok paling berkuasa di negara kaya minyak di Afrika Utara tersebut setelah ayahnya, Muammar Gaddafi, yang memerintah selama lebih dari empat dekade.
Saif al-Islam berperan penting dalam membentuk kebijakan dan memediasi misi diplomatik sensitif tingkat tinggi. Ia memimpin pembicaraan mengenai penghentian program senjata pemusnah massal Libya dan menegosiasikan kompensasi bagi keluarga korban pengeboman Pan Am Penerbangan 103 di atas Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.
Bertekad untuk menghapus status Libya sebagai negara "paria", ia menjalin hubungan dengan Barat dan mencitrakan dirinya sebagai seorang reformis yang menyerukan adanya konstitusi serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dari Reformis Menjadi Loyalis Garis Keras
Lulusan London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, Saif al-Islam sempat dipandang banyak pemerintah asing sebagai wajah Libya yang lebih bisa diterima dan ramah terhadap Barat.
Namun, ketika pemberontakan pecah melawan kekuasaan panjang Gaddafi pada tahun 2011, Saif al-Islam segera memilih loyalitas keluarga dan klan di atas persahabatannya dengan pihak Barat. Ia menjadi arsitek penumpasan brutal terhadap para pemberontak, yang ia sebut sebagai "tikus".
Dalam wawancara dengan Reuters saat pemberontakan berlangsung, ia menegaskan: "Kami bertempur di sini di Libya, kami mati di sini di Libya."
Ia memperingatkan bahwa sungai darah akan mengalir dan pemerintah akan bertempur hingga laki-laki, perempuan, dan peluru terakhir.
"Seluruh Libya akan hancur. Kita akan butuh 40 tahun untuk mencapai kesepakatan tentang cara menjalankan negara ini, karena hari ini, semua orang ingin menjadi presiden, atau emir, dan semua orang ingin menjalankan negara," ujarnya sambil mengacungkan jari ke arah kamera dalam sebuah siaran televisi.
'Saya Tetap di Sini'
Setelah pemberontak menguasai ibu kota Tripoli, Saif al-Islam mencoba melarikan diri ke negara tetangga, Niger, dengan menyamar sebagai suku Badui. Milisi Brigade Abu Bakr Sadik menangkapnya di jalan gurun dan membawanya ke kota Zintan, sekitar satu bulan setelah ayahnya diburu dan ditembak mati oleh pemberontak.
"Saya tetap di sini. Mereka akan mengosongkan isi senjata mereka ke tubuh saya saat saya keluar dari sini," katanya dalam rekaman audio saat ratusan pria mengerumuni pesawat angkut tua angkatan udara Libya.
Saif al-Islam dikhianati oleh seorang nomaden Libya yang membocorkan keberadaannya kepada para penangkap. Ia menghabiskan enam tahun berikutnya dalam tahanan di Zintan, sebuah kondisi yang sangat kontras dengan kehidupan mewah yang ia jalani di masa kekuasaan ayahnya, saat ia memiliki harimau peliharaan, berburu dengan elang, dan bergaul dengan kalangan atas Inggris saat berkunjung ke London.
Human Rights Watch sempat menemuinya di Zintan. Hanan Salah, direktur lembaga tersebut untuk wilayah Libya, mengatakan kepada Reuters saat itu bahwa Saif tidak mengeluhkan adanya penganiayaan. "Kami memang menyampaikan kekhawatiran tentang Gaddafi yang ditahan di sel isolasi hampir sepanjang waktu selama dia ditahan," ujarnya.
(Arief Setyadi )