Yusak juga mengungkapkan, berdasarkan survei yang dilakukan lembaganya, metode kampanye yang paling diminati masyarakat adalah pertemuan langsung dengan kandidat. Namun keterbatasan waktu kampanye membuat kandidat sulit menjangkau seluruh pemilih.
Kondisi tersebut kerap mendorong sebagian kandidat menempuh jalan pintas melalui praktik politik uang demi meraih dukungan dari pemilih yang belum sempat ditemui.
"Belum lagi tahap pembelian suara. Di beberapa daerah, satu suara bisa sangat mahal. Kalau ditotal, biaya untuk menjadi wali kota atau bupati bisa mencapai puluhan miliar," tuturnya.
(Arief Setyadi )