“IKRAR dapat dipahami sebagai bentuk tadarus akademik. Jika masyarakat pada umumnya melakukan tadarus Al-Qur’an selama Ramadhan, maka sivitas akademika PTKI melakukan tadarus gagasan, riset, dan pengalaman ilmiah,” ujar Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis, Dr. Nur Kafid.
Konsep “tadarus akademik” ini menjadi simbol penting bahwa Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai ruang refleksi keilmuan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi Islam terhadap masyarakat dan peradaban.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, cakupan pembahasan IKRAR mengalami perluasan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya lebih banyak membicarakan kebijakan pendidikan tinggi pada tataran makro, kini forum ini mulai menyoroti praktik-praktik konkret yang lahir dari riset, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi akademik di berbagai PTKI.
Dengan kata lain, IKRAR tidak hanya membicarakan ide besar dan konsep akademik, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan dalam praktik sosial di tingkat akar rumput.
“IKRAR tahun ini tidak hanya membahas kajian teoritis, tetapi juga praktik nyata hasil penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk isu gender dan anak,” jelas Nur Kafid.
Pendekatan ini menjadi penting karena salah satu tantangan terbesar dunia akademik adalah bagaimana pengetahuan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.