Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Masjid Al Aqsa Ditutup saat Idul Fitri, Warga Palestina: Hari Paling Menyedihkan

Awaludin , Jurnalis-Jum'at, 20 Maret 2026 |19:15 WIB
Masjid Al Aqsa Ditutup saat Idul Fitri, Warga Palestina: Hari Paling Menyedihkan
Para jemaah berdoa di luar Kota Tua (Foto: Lorenzo Tondo/The Guardian)
A
A
A

YERUSALEM - Untuk pertama kalinya sejak Perang Enam Hari 1967, Masjid Al-Aqsa ditutup bagi jemaah Muslim pada momen Idul Fitri. Penutupan ini memicu kesedihan mendalam di kalangan warga Palestina yang selama puluhan tahun menjadikan kompleks tersebut sebagai pusat ibadah akhir Ramadan.

Dilansir dari theguardian, Jumat (20/3/2026). Ratusan jemaah terpaksa melaksanakan salat di luar kawasan Kota Tua Yerusalem setelah aparat Israel membarikade seluruh akses masuk ke kompleks masjid.

Otoritas Israel menyatakan kebijakan ini sebagai langkah pengamanan di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan dukungan Amerika Serikat. Sejak akhir Februari, akses ke kompleks Al-Aqsa telah dibatasi secara signifikan selama Ramadhan.

Namun, banyak warga Palestina menilai penutupan tersebut sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperketat kontrol atas kawasan suci yang juga dikenal sebagai Al-Haram al-Sharif.

“Besok akan menjadi hari paling menyedihkan bagi para jamaah Muslim di Yerusalem,” ujar Hazen Bulbul, warga setempat yang telah beribadah di Al-Aqsa sejak kecil.

 

Ia juga mengkhawatirkan bahwa kebijakan ini dapat menjadi preseden berbahaya di masa depan, terutama setelah meningkatnya ketegangan sejak Serangan 7 Oktober 2023.

Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di sekitar kompleks Al-Aqsa semakin memanas. Penangkapan jemaah dan staf keagamaan meningkat, disertai pembatasan akses dan pengetatan keamanan di seluruh area Kota Tua. Aktivitas ekonomi warga pun terpukul, dengan sebagian besar toko dipaksa tutup menjelang Idul Fitri.

Kecaman internasional pun bermunculan. Liga Arab menyebut penutupan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kebebasan beribadah. Kritik serupa juga disampaikan oleh Organisasi Kerja Sama Islam dan Uni Afrika.

Mereka menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap status quo historis situs suci di Yerusalem serta berpotensi memicu ketegangan lebih luas di kawasan.

 

Kesedihan Idul Fitri di Gaza

Di sisi lain, suasana Idul Fitri di Gaza juga dipenuhi kontras antara duka dan harapan. Di tengah kehancuran akibat konflik berkepanjangan, warga tetap berupaya merayakan hari raya dengan segala keterbatasan.

“Kegembiraan Idul Fitri tidak lengkap,” kata Sadeeqa Omar, seorang ibu yang mengungsi di Deir al-Balah.

Meski serangan tidak lagi seintens sebelumnya, ancaman masih membayangi. Warga menghadapi keterbatasan pangan, kehilangan tempat tinggal, hingga perpisahan dengan anggota keluarga.

Di kamp-kamp pengungsian, tradisi tetap dijaga meski sederhana. Aroma kue khas seperti kaek dan maamoul masih tercium dari dapur darurat, menjadi simbol kecil ketahanan di tengah krisis.

Pembukaan terbatas perbatasan Rafah memberi sedikit harapan dengan masuknya bantuan kemanusiaan, namun distribusinya belum merata.

Di balik perayaan yang sederhana, tersimpan duka mendalam. Banyak keluarga merayakan Idul Fitri tanpa orang-orang tercinta, menjadikan momen kemenangan ini terasa sunyi dan penuh kehilangan.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement