Organisasi masyarakat sipil di berbagai negara melakukan hal yang sama. Misalnya, dua organisasi Islam terbesar Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mengecam keras serangan terhadap Iran. NU menyebut serangan ini brutal dan berpotensi memicu konflik global tak terkendali. Sementara Muhammadiyah menilainya sebagai pelanggaran HAM dan pengabaian terhadap keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Singkatnya, kedua ormas Islam tersebut mengingatkan bahwa perang bukan sekadar soal strategi dan geopolitik, melainkan tragedi kemanusiaan dengan konsekuensi sosial yang panjang.
Namun, kita harus jujur bahwa seruan-seruan kemanusiaan tersebut bagaikan merapal mantra di tengah badai. Ketika rumah sakit, sekolah, dan perumahan ikut terbom apa artinya semua bantuan dana dan pernyataan keprihatinan untuk Iran?
Lebih jauh, pertanyaan berikutnya adalah apakah kita akan membiarkan hukum rimba mengatur dan menguasai tatanan global? Apakah kita rela melihat logo Bulan Sabit Merah yang seharusnya menjadi simbol perlindungan, justru menjadi sasaran peluru dan rudal? Apakah kita merasa tidak sia-sia dengan seluruh pernyataan dan dukungan organisasi internasional yang mengutuk praktik perang, tapi tidak digubris. Bagaikan angin lalu.
Islam mengajarkan membunuh satu jiwa tak bersalah sama seperti dengan membunuh seluruh umat manusia. Nilai ini universal, melampaui batas agama, bangsa, dan negara. Ketika 223 perempuan tewas di rumah mereka sendiri, 206 pelajar dan guru gugur di sekolah yang luluh lantak, 16 petugas kesehatan “syahid” saat menolong sesama manusia maka sebenarnya kita semua telah kehilangan kemanusiaan kita.
Organisasi-organisasi kemanusiaan telah melakukan tugasnya. Kini giliran dunia untuk bertindak. Jeda kemanusiaan harus segera diwujudkan dan koridor kemanusiaan harus dibuka. Dan yang utama dan terpenting, hukum internasional harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Karena jika tidak, dentuman senjata (nuklir dan drone) dan deru pesawat tempur akan terus menenggelamkan suara nurani. Kita semua akan hidup dalam dunia, di mana rumah sakit, sekolah dan rumah tinggal bukan lagi tempat berlindung, belajar dan hidup tenang, melainkan menjelma sebagai kuburan massal.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.