Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengapa Iran Dan Amerika Serikat Sulit Berdamai?

Opini , Jurnalis-Selasa, 12 Mei 2026 |12:35 WIB
Mengapa Iran Dan Amerika Serikat Sulit Berdamai?
Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia dan Direktur COMPOSE.
A
A
A

Amerika Serikat pun berada dalam dilema, simalakama. Intervensi militer mungkin menunjukkan kekuatan militer mereka yang unggul, tetapi perang panjang di Timur Tengah terlalu mahal secara ekonomi dan politik. Harga minyak yang bergejolak, risiko terhadap pasukan dan aset regional, serta kelelahan publik terhadap perang luar negeri menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Washington membutuhkan hasil cepat, tetapi lawannya justru unggul dalam permainan kesabaran (resiliensi) dengan pertahanan yang kokoh. Maka keduanya bertemu di satu titik yang sama di mana kedua negara yang bertikai sama-sama belum siap damai secara penuh, namun sama-sama tidak ingin melakoni perang total.

Situasi seperti ini adalah berbahaya karena mudah disalahartikan sebagai stabilitas. Pasar mungkin akan tenang sesaat, dan juga jalur pelayaran mungkin dibuka sebagian. Pun, pernyataan resmi kedua negara mungkin terdengar optimistis. Namun, di bawah permukaan, ketegangan tetap hidup, dan kelompok proksi masih bersenjata. Juga, armada laut masih berjaga, sanksi ekonomi masih berlaku, dan juga kecurigaan tetap menjadi bahasa utama.

Sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa “perang yang beku” acap lebih berbahaya daripada perang terbuka. Ketika perang berlangsung secara terang-terangan, dunia tahu bahwa bahaya sedang terjadi. Tetapi ketika perang hanya berhenti sebentar, banyak pihak yang lengah. Investasi kembali masuk, diplomasi longgar, dan kewaspadaan menurun. Lalu, satu insiden kecil, seperti drone jatuh, tanker disita, roket meleset, cukup untuk menyalakan kembali api yang belum padam.

Selat Hormuz menjadi simbol paling jelas dari damai semu ini. Jalur sempit yang dilalui sebagian besar energi dunia itu tampaknya hanya wilayah geografis, tetapi sesungguhnya politis. Setiap kapal yang lewat membawa pesan strategis sehingga setiap patroli angkatan laut adalah bahasa tekanan. Dunia berharap Hormuz tetap terbuka, tetapi keterbukaannya kini bergantung pada keseimbangan rasa takut.

Bagi Indonesia dan negara berkembang yang lain, damai semu di kawasan Teluk bukan isu yang jauh. Kita memang tidak mengirim kapal perang ke sana, tetapi kita menerima tagihannya. Ketika harga minyak naik, maka subsidi membengkak. Ketika logistik terganggu, maka inflasi merayap. Ketika dolar menguat karena ketidakpastian global, maka nilai tukar tertekan. Pada akhirnya, rudal diluncurkan di kawasan Teluk, tetapi dampaknya terasa di meja makan.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement