Namun, Africa CDC mengatakan pengujian awal menunjukkan wabah saat ini adalah jenis yang berbeda, dengan hasil pengurutan genetik yang lebih lengkap akan keluar dalam 24 jam.
Lembaga pengawas kesehatan tersebut mengatakan akan mengadakan pertemuan mendesak pada hari Jumat dengan pihak berwenang dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan, serta Organisasi Kesehatan Dunia dan perusahaan farmasi.
“Africa CDC menyatakan solidaritasnya dengan pemerintah dan rakyat Republik Demokratik Kongo dalam menanggapi wabah ini,” kata Jean Kaseya, direktur jenderal Africa CDC.
“Mengingat tingginya pergerakan penduduk antara daerah yang terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting,” imbuhnya.
Kasus-kasus tersebut sebagian besar dilaporkan di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Michael Head, peneliti senior bidang kesehatan global di Universitas Southampton di Inggris, mengatakan, “Republik Demokratik Kongo sering mengalami kematian akibat Ebola. Kemungkinan ada serangkaian faktor yang menyebabkan wabah yang terjadi secara berkala ini. Kontak dekat manusia dengan reservoir hewan, kemungkinan besar kelelawar tetapi mungkin juga primata, adalah salah satu faktornya. Kekhawatiran lainnya termasuk pergerakan orang antara lingkungan pedesaan dan perkotaan, iklim tropis, dan tutupan hutan hujan yang tinggi,” tuturnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.