Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kepemimpinan NU antara Tradisi Keulamaan dan Tantangan Modernitas

Opini , Jurnalis-Minggu, 12 Juli 2026 |08:01 WIB
Kepemimpinan NU antara Tradisi Keulamaan dan Tantangan Modernitas
Nahdlatul Ulama.
A
A
A

Namun demikian, sebagaimana dijelaskan Martin van Bruinessen (1994) dalam "NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru" (Yogyakarta: LKiS), transformasi sosial telah mengubah posisi ulama dalam masyarakat. Modernisasi pendidikan, berkembangnya media digital, meningkatnya akses informasi, dan lahirnya generasi Muslim terdidik menyebabkan otoritas keagamaan tidak lagi bersifat monopolistik. Jika sebelumnya masyarakat memperoleh pengetahuan agama hampir sepenuhnya melalui pesantren dan kiai, kini informasi keagamaan tersedia secara luas melalui internet dan media sosial. Akibatnya, kepemimpinan keagamaan menghadapi kompetisi baru dalam membangun otoritas di ruang publik.

Perubahan tersebut menuntut kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk mengembangkan pola komunikasi yang lebih terbuka, partisipatif, dan adaptif terhadap dinamika masyarakat kontemporer. Kepemimpinan ulama tidak lagi cukup bertumpu pada kharisma personal sebagai sumber legitimasi, tetapi juga dituntut memiliki kapasitas manajerial, kemampuan mengelola organisasi secara profesional, serta kecakapan memanfaatkan teknologi digital dalam penguatan tata kelola kelembagaan. Pengembangan literasi digital, transparansi organisasi, dan inovasi pelayanan menjadi prasyarat penting agar NU tetap relevan di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Dalam perspektif ini, modernitas tidak diposisikan sebagai ancaman terhadap tradisi pesantren dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah, melainkan sebagai ruang strategis untuk merevitalisasi dakwah, memperluas pelayanan sosial, serta memperkuat peran NU sebagai organisasi masyarakat sipil yang mampu menjembatani kesinambungan tradisi dengan tuntutan perubahan zaman.

Fakta sosialnya adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah satu tokoh NU dan aktor intelektual NU, berhasil memperlihatkan bagaimana tradisi keulamaan dapat berdialog secara kreatif dengan modernitas. Menurut Wahid (1999) dalam "Prisma Pemikiran Gus Dur" (Yogyakarta: LKiS), pesantren bukanlah institusi yang menolak perubahan, melainkan lembaga yang memiliki kemampuan melakukan "adaptasi" sepanjang perubahan tersebut tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar Islam. Bagi Gus Dur, modernisasi tidak identik dengan westernisasi, tetapi merupakan proses pengembangan kapasitas umat untuk menghadapi tantangan zaman secara kreatif dan kritis.

Pemikiran Gus Dur menunjukkan bahwa kepemimpinan NU harus berpijak pada nilai-nilai universal Islam seperti keadilan, kemanusiaan, toleransi, dan kemaslahatan. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam praktik sosial melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, demokrasi, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Dalam perspektif ini, seorang pemimpin NU bukan hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga menjadi agen transformasi sosial yang mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement