“Perubahan tersebut, sering tidak disadari karena terjadi secara bertahap. Ketika paparan telah berlangsung cukup lama, hubungan anak dengan keluarga dapat berubah tanpa terasa,”pungkasnya.
Sementara itu, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Mayndra Eka Wardhana, mengatakan adanya pergeseran pola perekrutan. Anak dan remaja yang tumbuh sebagai generasi digital native menjadi kelompok rentan karena sering kali lebih memahami penggunaan platform digital dibandingkan orang tuanya.
“Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma memiliki peran amplifikasi yang sangat besar,” kata Mayndra.
Menurutnya, terorisme tidak dapat ditanggulangi hanya melalui penegakan hukum karena memiliki akar ideologis.
“Penanganannya perlu memadukan pencegahan, edukasi, kontra-narasi, deradikalisasi, serta kerja sama lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital,”tandasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.