Ia menambahkan, setelah pengelolaan yayasan dikembalikan, ditemukan sejumlah persoalan yang dinilai bertentangan dengan hukum, termasuk keberadaan senjata di lingkungan sekolah.
"Patutlah bagi kami untuk mengatakan bahwa ini ada persoalan. Patutlah bagi semua orang untuk mengungkapkan ini. Patutlah bagi negara untuk memastikan bahwa namanya siswa-siswa itu mendapatkan pendidikan yang aman," katanya.
Salah satu pendiri Yayasan Harapan Ibu, Yan Sofyan Syafe'i, mengaku sedih mendengar adanya temuan senjata dan berbagai barang terlarang lain yang muncul di sekolah yang turut didirikannya pada 1979.
"Sangat sedih sekali karena betul-betul kita mendirikan sekolah itu dengan rasa keinginan untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak bangsa yang saleh dan saleha," kata Yan.
Ia berharap seluruh persoalan yang terjadi dapat diselesaikan sehingga sekolah kembali pada tujuan awal pendiriannya. "Mudah-mudahan sekolah kita ini dapat kembali sesuai dengan tujuan daripada kami pada waktu itu untuk mendirikannya yaitu ingin mencetak anak-anak daripada sekolah kita ini jadi anak-anak yang saleh dan saleha dan juga menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di kemudian hari," ujarnya.