JAKARTA – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Kiai Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat perhatian terhadap perkembangan NU di luar Jawa.
Menurutnya, penguatan NU tidak seharusnya hanya berorientasi pada struktur organisasi di tingkat pusat. PBNU perlu memastikan keberadaan dan manfaat khidmah NU benar-benar dirasakan hingga daerah, termasuk wilayah pedalaman dan pelosok.
“Saya juga mengusulkan agar ke depan Ketua PBNU memberikan perhatian yang lebih besar kepada NU di daerah-daerah, khususnya wilayah pedalaman, pelosok, dan daerah-daerah yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian secara maksimal,” kata Gus Rozin saat silaturahmi dengan jajaran PWNU dan PCNU se-Aceh di Banda Aceh, dikutip Kamis (20/8/2026).
Dia menegaskan, NU tidak boleh hanya kuat di pusat. Organisasi tersebut harus tumbuh secara merata dan memberikan manfaat bagi jamaah di berbagai daerah.
Gus Rozin mengatakan, penguatan NU di daerah harus mempertimbangkan karakter, potensi, serta kebutuhan masing-masing wilayah. Menurutnya, daerah di luar Jawa memiliki pengalaman dan tantangan yang tidak selalu sama dengan wilayah yang selama ini menjadi pusat perkembangan NU.
Karena itu, PBNU ke depan diharapkan tidak hanya hadir melalui struktur organisasi, tetapi juga memperkuat pelayanan, kaderisasi, pendidikan, pesantren, hingga potensi ekonomi masyarakat di daerah.
Dalam pertemuan tersebut, penguatan pesantren turut menjadi salah satu perhatian. Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menanyakan komitmen Gus Rozin apabila nantinya mendapat amanah sebagai Ketua Umum PBNU dalam memperkuat dan mengembangkan pesantren.
Perhatian Gus Rozin terhadap pesantren juga tercermin dari sejumlah kiprah yang telah dilakukannya. Pada periode 2014–2019, ia terlibat dalam pengawalan lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Dia juga terlibat dalam sejumlah program penguatan pesantren dan santri, di antaranya Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional, Apel Akbar Santri Nusantara, serta Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren.
Saat pandemi Covid-19, Gus Rozin turut terlibat dalam Satkor Covid RMI PBNU dan Program Kado Lebaran untuk Guru Ngaji dan lain sebagainya.
Menurutnya, memperkuat pesantren berarti ikut menjaga masa depan NU dan Indonesia. Pesantren harus mampu berkembang dalam bidang pendidikan, sumber daya manusia, ekonomi, dan teknologi tanpa kehilangan karakter serta tradisi keilmuannya.
Gus Rozin menilai penguatan pesantren memiliki kaitan erat dengan pembangunan NU di daerah. Pesantren menjadi salah satu basis penting dalam kaderisasi, tradisi keilmuan, dan keberlanjutan NU di berbagai wilayah.
Karena itu, kepemimpinan PBNU mendatang diharapkan tidak hanya melihat pembangunan organisasi dari perspektif pusat, tetapi juga mendengar kebutuhan struktur dan jamaah di daerah.
“Penguatan NU harus berjalan dari bawah dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi daerah untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya,” kata Gus Rozin.
Menurut Gus Rozin, Muktamar ke-35 NU tidak semata-mata menjadi forum untuk memilih kepemimpinan baru, tetapi juga momentum menentukan arah perjalanan NU dalam beberapa tahun ke depan.
“Semoga Muktamar menjadi momentum untuk kembali memperkuat NU, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, melanjutkan apa yang sudah baik, dan membangun masa depan NU yang lebih mandiri, kuat, serta bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.