Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

China Dituduh Bangun Pangkalan Militer di Tibet dengan Kedok Proyek Energi Bersih

Rahman Asmardika , Jurnalis-Selasa, 25 Agustus 2026 |14:01 WIB
China Dituduh Bangun Pangkalan Militer di Tibet dengan Kedok Proyek Energi Bersih
Pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia, Taman Tenaga Surya Talatan di Prefektur Otonom Tibet Hainan, Qinghai, China.
A
A
A

Dari sudut pandang India, situasi ini menimbulkan kekhawatiran. Sebagaimana pernah diulas oleh "Bitter Winter", pemanfaatan tenaga air di sungai lintas batas seperti Yarlung Tsangpo memunculkan kekhawatiran klasik terkait aliran air ke wilayah hilir dan potensi penggunaan bendungan sebagai "bom air"; sementara itu, transformasi dataran tinggi tersebut menjadi kawasan industri energi berskala besar berisiko mengubah pola iklim regional dan mempercepat pencairan gletser. Di saat yang sama, elektrifikasi desa-desa perbatasan, penerapan *microgrid*, dan pembangunan pos militer memungkinkan adanya permukiman permanen, pengawasan segala cuaca, serta mobilisasi cepat di berbagai sektor yang berhadapan langsung dengan wilayah Arunachal Pradesh, Sikkim, dan Ladakh di India—meskipun infrastruktur tersebut secara resmi dilabeli sebagai "pembangunan hijau" oleh RRC.

Energi hijau, realitas

Dorongan Beijing terhadap energi terbarukan di Wilayah Otonomi Tibet bukan sekadar kisah tentang transisi lingkungan; melainkan strategi yang memadukan ketahanan energi, konsolidasi wilayah perbatasan, dan logistik militer di salah satu dataran tinggi paling sensitif di dunia. Bendungan pembangkit listrik tenaga air, ladang panel surya, *microgrid*, dan jaringan transmisi tegangan sangat tinggi (UHV) memang dapat menerangi rumah, mendukung operasional sekolah, dan meningkatkan pendapatan warga di sepanjang perbatasan—namun infrastruktur ini juga memasok listrik bagi radar, sistem komunikasi, *drone*, dan barak militer yang memperkuat kehadiran Beijing di wilayah yang berhadapan dengan India. Dengan demikian, manfaat yang dibawa oleh pembangunan ini sekaligus menjadi peluang bagi tindakan-tindakan yang merugikan.

Bagi New Delhi, Kathmandu, Thimphu, dan Dhaka, tantangannya adalah menyadari bahwa apa yang dipromosikan Beijing sebagai "keajaiban energi bersih" di Tibet pada hakikatnya merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kekuatan keras (hard power) di puncak pegunungan Himalaya. Memahami sifat penggunaan ganda (dual-use) dari proyek-proyek ini—melalui pemantauan satelit yang berkelanjutan, analisis sumber terbuka, dan dialog mengenai risiko sungai lintas batas—akan menjadi hal krusial jika India dan negara-negara Asia Selatan ingin merumuskan respons yang menyeimbangkan ambisi energi bersih mereka sendiri dengan kebutuhan mendesak akan keamanan perbatasan.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement