Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Shanghai Lumpuh Diterjang Topan Dolphin, Inisiatif "Kota Spons" China Disorot

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 21 Agustus 2026 |15:07 WIB
Shanghai Lumpuh Diterjang Topan Dolphin, Inisiatif "Kota Spons" China Disorot
Shanghai menjadi salah satu kota terdampak paling parah oleh Topan Dolphin.
A
A
A

JAKARTA - Topan Dolphin yang melanda China pekan lalu membawa angin dan hujan yang merendam sejumlah kota di Negeri Tirai Bambu. Situasi ini memperlihatkan pemandangan yang tampaknya bertolak belakang dengan "tata kelola ekologis" yang digembar-gemborkan Beijing.

Shanghai, pusat keuangan China yang gemerlap dan kota yang kerap dipamerkan Partai Komunis China (PKC) sebagai bukti modernisasinya, berubah menjadi danau dalam hitungan jam. Jalanan berubah menjadi sungai, pintu masuk kereta bawah tanah menjadi air terjun, dan toko-toko mewah di kawasan The Bund harus menyaksikan barang dagangan senilai lebih dari satu juta yuan hanyut terbawa air.

Seharusnya Bisa Ditangani

Kritik mengatakan apa yang terjadi sepenuhnya bisa diprediksi dari model tata kelola yang lebih mengutamakan beton dan kontrol alih-alih infrastruktur yang benar-benar berfungsi. Mereka mengatakan bahwa meski Topan Dolphin dahsyat, intensitasnya bukanlah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala global, dengan kota-kota di Jepang, Taiwan, dan wilayah Asia lainnya secara rutin menghadapi badai dengan kekuatan serupa tanpa berujung pada kekacauan.

Yang membuat Dolphin menjadi bencana besar di China adalah kombinasi antara curah hujan ekstrem dan pengabaian infrastruktur selama berpuluh-puluh tahun.

Dilansir Khabarhub, Jumat (21/8/2026), stasiun cuaca pusat Shanghai mencatat curah hujan sekitar 313 hingga 316 milimeter dalam waktu 24 jam—sebuah rekor yang melampaui catatan sejak stasiun tersebut mulai mendata cuaca pada tahun 1873, lebih dari 150 tahun yang lalu. Lebih dari satu juta orang dievakuasi di wilayah China timur, hampir 950 penerbangan dibatalkan di dua bandara Shanghai, dan seluruh distrik seperti Jiading serta Qingpu terendam air selama berhari-hari.

Supermarket di lantai bawah tanah kebanjiran hingga menyerupai akuarium. Seorang pemilik toko, yang baru setahun sebelumnya menginvestasikan seluruh tabungannya untuk usahanya, menceritakan bagaimana ia menyaksikan air banjir naik hingga ke lantai tiga dan melenyapkan segala sesuatu yang telah ia bangun.

Semua ini bukanlah hal baru. Skenario serupa pernah terjadi di Zhengzhou pada 2021, ketika badai "sekali dalam seribu tahun" menewaskan ratusan orang yang terjebak di dalam terowongan kereta bawah tanah yang terendam banjir. Hal yang sama juga terjadi di Beijing pada 2023, saat sisa-sisa Topan Doksuri menewaskan puluhan orang dan memaksa pemerintah untuk sengaja membanjiri kota yang lebih kecil, Zhuozhou, demi menyelamatkan ibu kota—sebuah keputusan yang memicu kemarahan publik.

Setiap kali, para pejabat menjanjikan reformasi. Setiap kali pula, badai berikutnya datang dan kota-kota kembali tenggelam.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement