Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Strategi China di Samudra Hindia: dari Seychelles, Maladewa, hingga Kepulauan Solomon

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 27 September 2026 |14:25 WIB
Strategi China di Samudra Hindia: dari Seychelles, Maladewa, hingga Kepulauan Solomon
Menteri Luar Negeri Kepulauan Solomon Jeremiah Manele berbincang dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, China, 21 September 2019. (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA — Meningkatnya pengaruh China di negara-negara kepulauan kecil dinilai telah memicu tanggapan dari Amerika Serikat (AS). Salah satu tindakan yang dinilai sebagai bentuk dari respons tersebut adalah keputusan Washington untuk membuka kembali kedutaannya di Seychelles pada tahun 2023.

Washington sebelumnya telah menutup kedutaannya di Seychelles pada tahun 1996. Selama kurun waktu tersebut, China berhasil membangun kehadiran yang signifikan melalui pembangunan sekolah, rumah sakit, perumahan, serta infrastruktur publik.

Presiden Seychelles sendiri mengakui bahwa keterlibatan Beijing telah menciptakan niat baik (goodwill) yang sangat besar, terutama karena China menyediakan berbagai layanan dasar yang diabaikan oleh kekuatan eksternal lainnya. Fenomena ini mencerminkan perubahan konstelasi kawasan Samudra Hindia: negara-negara yang dahulu dianggap pinggiran dalam persaingan kekuatan utama kini menjadi sangat krusial dalam kalkulasi strategis Beijing, New Delhi, dan Washington.

Signifikansi Seychelles tidak terletak pada besarnya ukuran ekonomi atau jumlah populasinya, melainkan pada lokasi strategisnya di wilayah barat Samudra Hindia. Wilayah lautnya berada di sepanjang rute pelayaran utama yang menghubungkan Afrika, Timur Tengah, dan Asia.

Mengutip laporan PML Daily, Minggu (27/9/2026), keterlibatan China di Seychelles merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk mempererat hubungan ekonomi dan politik di seluruh Samudra Hindia, tempat di mana sektor infrastruktur, perdagangan, dan keamanan maritim kini semakin saling terhubung.

Bagi Beijing, Samudra Hindia memiliki arti vital karena menjadi jalur akses ke negara-negara penghasil energi di Teluk Persia, pasar di Afrika dan Eropa, serta jalur transportasi maritim komoditas perdagangan China. Sebagian besar impor energi China bergantung pada keamanan jalur maritim ini, yang menghubungkan Samudra Hindia bagian barat hingga Selat Malaka.

Inisiatif Sabuk dan Jalan serta Perluasan Pengaruh

Pertimbangan ekonomi ini mendorong Beijing memperluas infrastruktur luar negeri dan keterlibatan diplomasinya. Kerangka kerja Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) menjadi sarana utama pembangunan pelabuhan, jaringan transportasi, dan fasilitas komersial, dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta bank kebijakan China bertindak sebagai penyedia modal utama bagi negara-negara yang membutuhkan investasi.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement