Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Strategi China di Samudra Hindia: dari Seychelles, Maladewa, hingga Kepulauan Solomon

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 27 September 2026 |14:25 WIB
Strategi China di Samudra Hindia: dari Seychelles, Maladewa, hingga Kepulauan Solomon
Menteri Luar Negeri Kepulauan Solomon Jeremiah Manele berbincang dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, China, 21 September 2019. (Foto: Reuters)
A
A
A

Persaingan Diplomatik dengan Taiwan di Pasifik

Penggunaan bantuan ekonomi dan diplomasi oleh China untuk memperluas pengaruhnya juga terlihat jelas di kawasan Pasifik, di mana Beijing berhasil membujuk sejumlah negara kepulauan untuk mengalihkan pengakuan diplomatik dari Taiwan. Pada tahun 2019, Kepulauan Solomon dan Kiribati memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan dan beralih ke China, langkah yang kemudian diikuti oleh Nauru pada Januari 2024. Pengalihan ini secara signifikan mengikis kehadiran formal Taiwan di Pasifik.

Pendekatan China menggabungkan tekanan diplomatik dengan penawaran bantuan ekonomi dan kerja sama pembangunan. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut persaingan dengan Taiwan sebagai komponen inti dari keterlibatan China dengan negara-negara Kepulauan Pasifik.

Kasus Kepulauan Solomon menjadi contoh menonjol: setelah pengalihan hubungan diplomatik, China mendanai pembangunan stadion olahraga megah di Honiara dan dilanjutkan dengan penandatanganan pakta keamanan bilateral pada tahun 2022. Urutan peristiwa ini membuktikan bagaimana bantuan pembangunan, pengakuan diplomatik, dan kerja sama keamanan saling terikat dalam pendekatan politik luar negeri China.

Strategi Maritim dan Implikasi Bagi Negara Kepulauan

Strategi maritim China di Samudra Hindia juga didukung oleh keberadaan fasilitas militer luar negeri pertamanya di Djibouti yang didirikan pada tahun 2017. Keberadaan pangkalan ini membuktikan bahwa Beijing telah mengembangkan kehadiran militer yang berkelanjutan untuk mendukung operasi angkatan laut, misi anti-bajak laut, dan aktivitas keamanan lainnya di kawasan tersebut.

Laporan PML Daily menyoroti bahwa tantangan utama bagi kekuatan regional bukanlah pembangunan satu pangkalan militer tunggal, melainkan efek kumulatif dari perluasan hubungan ekonomi, diplomatik, dan keamanan China. Pelabuhan, proyek infrastruktur, perjanjian maritim, dan kemitraan politik secara kolektif menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi kehadiran jangka panjang China.

Bagi negara-negara kepulauan kecil yang berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan dunia, investasi China memang menawarkan peluang pembangunan yang berharga. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan agar ketergantungan ekonomi dan kerja sama keamanan tersebut tidak secara perlahan mengikis kemampuan pemerintah setempat dalam menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dan berdaulat.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement