Kondisi tersebut membuat sebagian warga khawatir aktivitas Gunung Anak Krakatau berkembang menjadi bencana yang lebih besar, termasuk tsunami.
Meski demikian, Mudopar mengatakan dirinya bersama keluarga memilih tetap berada di rumah sembari meningkatkan kewaspadaan dan memantau perkembangan informasi.
"Sebagian ada yang khawatir. Kalau saya bersama keluarga masih bertahan, hanya tetap dalam kondisi waspada," tuturnya.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga di wilayah lain di Kabupaten Pandeglang. Perangkat Desa Idaman, Kecamatan Patia, Endang Suhendar, mengatakan suara dentuman dari arah Gunung Anak Krakatau terdengar berulang kali pada Sabtu pagi.
Suara tersebut cukup keras sehingga membuat warga terkejut. Mereka kemudian memilih terus memantau informasi terkait aktivitas gunung api tersebut.
"Pagi ini kita juga belum bisa tidur nyenyak. Memantau terus update informasinya karena khawatir meletus dan menyebabkan tsunami," kata Endang.