Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Heboh Erupsi Gunung Api Dikaitkan dengan Rekayasa Asing, Begini Penjelasan Ahli

Binti Mufarida , Jurnalis-Selasa, 08 September 2026 |10:22 WIB
Heboh Erupsi Gunung Api Dikaitkan dengan Rekayasa Asing, Begini Penjelasan Ahli
Gunung Anak Krakatau Meletus
A
A
A

JAKARTA - Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengatakan, dalam terminologi geologi, tektonik, dan geofisika, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia.

Daryono mengatakan energi yang dibutuhkan untuk memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan.

"Erupsi terjadi ketika magma naik akibat gaya apung karena densitasnya yang lebih rendah dibandingkan batuan sekitar, disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida," ujar Daryono, Selasa (8/9/2026).

Tekanan di kantong magma ini, kata Daryono, mencapai ratusan MegaPascal, sehingga tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja.

Dia pun mengatakan kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire juga menjelaskan mengapa aktivitas vulkanik terjadi secara intensif dan kerap beruntun. Indonesia merupakan tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik utama dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.

Selain itu, penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua membawa air dan sedimen basah ke kedalaman mantel, memicu pelelehan batuan mantel, dan menghasilkan suplai magma secara terus-menerus selama jutaan tahun.

"Ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak bumi pasca-gempa besar, beberapa gunung api yang kantong magmanya sudah dalam kondisi kritis dapat terpicu secara hampir bersamaan," kata Daryono.

Fenomena ini, tegas Daryono, merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu. "Bukti ilmiah lainnya terlihat dari adanya sinyal prekursor geofisika yang selalu mendahului setiap peristiwa erupsi,"ucapnya.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement