TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah menghancurkan kapal pengintai Saildrone Explorer milik Amerika Serikat (AS) di pintu masuk Selat Hormuz. IRGC merilis rekaman yang memperlihatkan wahana nirawak (drone) tersebut terbakar di permukaan air.
Angkatan Laut IRGC pada Kamis (10/9/2026) menyatakan bahwa kapal tersebut — yang diidentifikasi dengan nomor lambung 5838 — terkena serangan saat beroperasi di dekat jalur perairan strategis itu. Media pemerintah Iran menyebutnya sebagai drone pengintai Amerika, namun militer AS belum mengonfirmasi kehilangan kapal tersebut.
"Dalam beberapa hari terakhir, karena takut untuk mendekat dan berhadapan langsung dengan para pejuang Islam, militer Amerika yang agresor dan teroris telah mengerahkan kapal-kapal nirawaknya ke Selat Hormuz," ujar pihak IRGC, sebagaimana dilansir RT.
Jalur perairan strategis tersebut tetap berada di bawah kendali dan "pengawasan intelijen" Teheran, tambah IRGC, seraya memperingatkan bahwa "setiap kehadiran yang bermusuhan di selat strategis ini akan menjadi sasaran serangan."
Saildrone Explorer, yang memiliki panjang sekitar tujuh meter, merupakan wahana permukaan tanpa awak yang dilengkapi dengan kamera, sensor, dan sistem komunikasi untuk keperluan pengawasan serta pengintaian maritim. Angkatan Laut AS sebelumnya telah mengerahkan wahana ini bersama Task Force 59 dari Armada ke-5 yang berbasis di Bahrain — sebuah satuan tugas yang mengintegrasikan sistem tanpa awak dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke dalam operasi kawasan.
Sementara itu, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan telah menerima laporan bahwa proyektil menghantam dua kapal di lepas pantai Oman.
Insiden terbaru ini terjadi hanya dua hari setelah IRGC menyita sebuah drone bawah air milik AS di pintu masuk Selat Hormuz. Rekaman yang dirilis oleh Teheran memperlihatkan sosok yang tampak sebagai wahana bawah air otonom (autonomous underwater vehicle/AUV) Dive-LD buatan Anduril, yang mulai dioperasikan pada tahun 2025. Pihak Pentagon mengakui telah kehilangan wahana bawah air tersebut, namun menyatakan bahwa alat itu sudah usang dan rusak, serta tidak memuat data sensitif maupun peralatan rahasia.
Insiden-insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan maritim antara Amerika Serikat dan Iran.
AS telah menghancurkan beberapa kapal tanker minyak Iran setelah menuduh IRGC menembakkan rudal balistik ke arah kapal perang AS. Iran telah menyerang kapal-kapal AS serta kapal tanker komersial yang dituduh melanggar pembatasan terkait Selat Hormuz.
Konfrontasi ini sangat mengganggu lalu lintas di salah satu koridor energi terpenting dunia dan mendorong harga minyak mentah Brent melampaui angka USD107 per barel; sementara itu, di wilayah yang lebih jauh ke barat, pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran semakin memperketat kendali mereka atas Bab al-Mandeb, sebuah titik strategis vital lainnya yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.