Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Rebut Pulau Strategis di Laut Merah, Houthi Kuasai Sepenuhnya Kawasan Bab al-Mandeb

Rahman Asmardika , Jurnalis-Sabtu, 12 September 2026 |14:15 WIB
Rebut Pulau Strategis di Laut Merah, Houthi Kuasai Sepenuhnya Kawasan Bab al-Mandeb
Ilustrasi.
A
A
A

SANAA - Kelompok Houthi Yaman merebut sebuah pulau strategis di Laut Merah yang terletak di tengah Selat Bab al-Mandeb pada Jumat (11/9/2026). Ini membuat Houthi secara penuh menguasai Bab al-Mandeb, jalur perairan yang vital bagi ekspor minyak Arab Saudi.

Kelompok Houthi yang didukung Iran—yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara selama bertahun-tahun—melancarkan serangan besar-besaran pekan lalu terhadap pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi, serta meraih serangkaian kemenangan dalam pertempuran yang telah menelan ratusan korban jiwa.

Arab Saudi merespons dengan melancarkan puluhan serangan udara, di mana dua serangan terbaru menghantam bandara Mocha, menurut laporan media Houthi pada Jumat.

Pertempuran di Yaman telah menjadi sorotan utama dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas, yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran serta mendorong Republik Islam tersebut untuk memblokade jalur perairan lain yang krusial bagi arus energi global, yakni Selat Hormuz.

"Kapal-kapal yang mengangkut petempur Houthi bersenjata tiba di Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah menarik diri dari sana kemarin," ujar pejabat pemerintah setempat kepada AFP, merujuk pada pulau yang juga dikenal sebagai Perim.

"Kelompok Houthi telah merampungkan penguasaan mereka atas wilayah Bab al-Mandeb dan Pulau Mayyun, yang terletak di tengah selat tersebut," tambah pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonimitas.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa orang-orang bersenjata sedang "menempatkan diri di sepanjang pesisir Bab al-Mandeb dan berkeliling menggunakan kendaraan militer".

Bab al-Mandeb menghubungkan Asia dan Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Selat ini menjadi semakin penting sebagai jalur transit bagi ekspor minyak dari Arab Saudi—eksportir minyak terbesar di dunia—sejak perang di Timur Tengah pecah.

 

Baik minyak mentah Brent, yang merupakan tolok ukur internasional utama, maupun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di atas harga 100 dolar AS pada Jumat.

Sebelum serangan tersebut dilancarkan, kelompok Houthi telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara, termasuk ibu kota Sanaa dan kota pelabuhan utama di Laut Merah, Hudaida.

Namun, mereka tidak menguasai wilayah mana pun yang berbatasan langsung dengan Selat Bab al-Mandeb.

Sebelumnya, kelompok Houthi telah menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal untuk mengganggu lalu lintas pelayaran di Laut Merah.

Meskipun Arab Saudi telah melancarkan serangan udara sebagai balasan, langkah tersebut gagal menghentikan laju pergerakan cepat kelompok Houthi.

Pertempuran di Yaman telah menewaskan lebih dari 500 orang sejak pekan lalu—sebagian besar adalah kombatan—menurut data yang dihimpun AFP dari berbagai sumber. Konflik ini juga memaksa hampir 20.000 orang mengungsi dari rumah mereka, menurut data yang disampaikan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Konflik terbaru yang terus berlanjut ini berisiko menyeret kembali Yaman ke dalam konflik yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Kelompok Houthi merebut ibu kota Yaman dan menggulingkan pemerintah sebelum terlibat pertempuran melawan koalisi pimpinan Arab Saudi dari tahun 2015 hingga tercapainya gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tahun 2022.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement