JAKARTA – Polisi memastikan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu Utara merupakan awak kapal Arupadhatu I yang hilang kontak di Selat Sunda. Kapal ini dinaiki lima jurnalis bersama tiga awak ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, Senin (7/9/2026).
Kepastian itu diperoleh berdasarkan hasil Disaster Victim Identification (DVI) yang dilakukan biddokes Polri. “Bahwa secara genetik jenazah Mr X (di Pulau Enggano) teridentifikasi sebagai Surakhman, ABK Kapal Arupadhatu,” kata Kapolda Banten Irjen Pol Hengki dalam konfernsi pers, Rabu (23/9/2026)
Lima jurnalis hilang kontak saat meliput Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026). Mereka yakni M Bagus Khoirunnas (pewarta foto Kantor Berita Antara), Ari Basuki (pewarta foto Merdeka), Yudistiro Pranoto (pewarta foto iNews.id), Firdaus Wajidi (jurnalis Anadolu Agency) dan Donal Husni, pewarta foto lepas atau freelance.
Bersama para jurnalis terdapat tiga orang dalam kapal yakni Warta (55) sebagai nakhoda, Surakman (60) selaku ABK. Heriyanto (49) selaku pemandu perjalanan.
Senin, 7 September 2026
- Lima jurnalis menuju Selat Sunda untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Mereka menumpang speedboat KM Arupadhatu I yang diawaki tiga orang, berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten pada pukul 14.00 WIB.
- Pada pukul 14.42 WIB, salah satu anggota rombongan sempat membagikan lokasi melalui handphone (share location) kepada jurnalis di Lampung. Posisi terakhir tersebut berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau.
- Pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan terputus. Tim SAR selanjutnya menerima informasi hilang kontak KM Arupadhatu I.
Selasa, 8 September 2026
Operasi pencarian mulai digelar tim SAR gabungan melibatkan kapal besar, kapal TNI AL, serta Rigid Inflatable Boat (RIB). Pencairan dibagi dalam empat sektor dari wilayah Banten dan Lampung.
Kamis, 10 September
Tim SAR gabungan menemukan sebuah pelampung dan botol. Namun belum dapat dipastikan apakan pelampung tersebut yang digunakan jurnalis hilang kontak. Polisi lakukan identifikasi.