Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Misteri Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau: Gunung Api Baru Atau Sekedar Endapan?

Binti Mufarida , Jurnalis-Kamis, 24 September 2026 |20:01 WIB
Misteri Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau: Gunung Api Baru Atau Sekedar Endapan?
Gunung Anak Krakatau.
A
A
A

JAKARTA - Daratan baru terpantau muncul di perairan sekitar Anak Krakatau pascaerupsi besar gunung api tersebut. Fenomena ini memicu spekulasi publik mengenai kemungkinan munculnya gunung api baru atau pulau baru di Selat Sunda.

Menanggapi pertanyaan tersebut, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa daratan tersebut murni merupakan akumulasi endapan material vulkanik. Menurutnya, daratan tersebut terbentuk dari penumpukan material sisa erupsi seperti abu, batuan, dan lava yang mengendap secara bertahap di laut hingga akhirnya menyembul ke permukaan.

“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut. Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut,” kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9/2026).

Daryono memaparkan bahwa terbentuknya daratan di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis serta oseanografis. Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tergolong dangkal, sehingga material lontaran piroklastik dan aliran lava cepat menumpuk.

"Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting memindahkan sedimentasi, membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap secara permanen," jelasnya.

Kendati demikian, Daryono menyebut keberadaan daratan baru itu masih dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam.

“Jika Gunung Anak Krakatau terus erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan meluas dan kokoh bila terlapisi lava yang membeku. Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi dapat mengikis endapan pasir tersebut hingga tenggelam kembali. Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini,” kata Daryono.

 

Ia menambahkan, terdapat tiga syarat geologis utama agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri.

“Pertama, harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru. Kedua, wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan gunung tetangga. Ketiga, memiliki struktur geologis sendiri, seperti aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut,” paparnya.

Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar, Daryono mengimbau publik untuk tetap tenang dan menyaring informasi dari sumber resmi.

“Masyarakat diimbau tidak mudah terprovokasi oleh isu spekulatif di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif. Langkah paling bijak adalah senantiasa merujuk pada informasi resmi PVMBG dan mematuhi rekomendasi jarak aman petugas di lapangan,” pungkas Daryono.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement