Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Baret Merah di Hamparan Sawah: Sepenggal Kisah Jenderal Ternate Saleh Mustafa

Opini , Jurnalis-Jum'at, 02 Oktober 2026 |09:26 WIB
Baret Merah di Hamparan Sawah: Sepenggal Kisah Jenderal Ternate Saleh Mustafa
Sepenggal kisah Jenderal Ternate Saleh Mustafa (Foto: Dok)
A
A
A

(Penulis: Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB 2019-2021)

ADA saatnya seorang prajurit meletakkan peta operasi, lalu membuka peta yang lain: Peta sawah, ladang, kebun, irigasi dan lumbung pangan.

Dan tanggal 1 Oktober 2026, Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa membuka peta yang baru itu. Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Pertanian, menggantikan Sudaryono--mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Bagi saya, kabar itu menyingkap lorong panjang kenangan. Saya mengenal Saleh bukan ketika tiga bintang sudah bertengger di pundaknya. Saya mengenalnya ketika masih Letnan Dua, perwira remaja lulusan Akmil 1991 yang bertugas di Grup 1 Parako Kopassus, Serang, Banten.

Sahabat saya sesama asal Sengkang Wajo, almarhum Kolonel Andi Sirajuddin Kube Dauda—Aju—yang memperkenalkan kami. Melalui Aju pula saya mengenal lingkaran perwira muda Kopassus masa itu: Saleh, Maruli Simanjuntak, Iwan Setiawan, Richard Tampubolon, Mohamad Hasan, Mohammad Fadjar dan banyak lainnya.

Saya melihat mereka sebagai anak-anak muda berseragam loreng yang hidupnya diisi latihan dan gemblengan. Sebagian kemudian tumbuh menjadi jenderal dan menempati berbagai posisi penting. Saleh salah satunya.

Kini, lebih tiga dasawarsa kemudian, prajurit yang saya kenal itu memasuki “medan operasi” yang sama sekali berbeda.

Musuhnya bukan lagi kelompok bersenjata. Tantangannya adalah air, pupuk, benih, perubahan iklim, produktivitas, harga gabah, kesejahteraan petani, hingga keberlanjutan swasembada pangan.

Ia hanya berpindah cara memandang tanah. Dulu tanah dipertahankan sebagai wilayah kedaulatan. Kini tanah harus dijaga agar terus melahirkan kehidupan. Sebab pangan, pada hakikatnya adalah benteng pertahanan sebuah negara.

Tifa dari Ternate

Saleh adalah putra Ternate, sebuah pulau kecil yang berlimpah cengkeh dan pala. Kini, salah satu putra terbaiknya dipanggil negara ikut mengurus pertanian Indonesia Dari cengkeh menuju padi. Dari jalur rempah menuju jalan kedaulatan pangan.

Saya mengenal Saleh sebagai sosok yang tekun lagi santun. Murah senyum, gemar menyanyi, tetapi tegas ketika bertugas. Karakter itu selalu mengingatkan saya kepada salah satu warisan budaya Ternate: Dalil Tifa, tradisi lisan berisi petuah kehidupan yang dilantunkan bersama irama tifa.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement