Salah satu nasihatnya berbunyi:
Moku-moku kore mie. Paga gudu yo sose gudu. Jaga doro laha-laha kara no toro. Afa mara sala doro. Juanga ruba toma luleo.
Kurang lebih maknanya: Ombak boleh pecah dan bertebaran, tetapi tunggulah ombak yang baik untuk diikuti. Jangan salah memilih, sebab bahtera bisa hancur.
Itulah filsafat kepemimpinan.
Pemimpin bukan hanya harus berani berlayar. Ia harus pandai membaca gelombang.
Di Kementerian Pertanian, gelombang itu bernama iklim, air, pupuk, harga, distribusi, teknologi, hilirisasi dan nasib jutaan petani. Salah membaca ombak, kebijakan bisa karam sebelum sampai ke sawah.
Belajar dari Medan
Saleh telah melewati banyak medan. Ia pernah menjadi Dan Grup 1 Kopassus, bertugas di Aceh, menjadi Danrem 132/Tadulako di tengah operasi Poso, Pangdam XVII/Cenderawasih, Kaskostrad, Pangkostrad, Irjen TNI hingga Wakil KSAD.
Ketika bertugas di Poso, ia menulis buku berjudul “Menuai Damai di Tanah Poso.” Saya menyukai kata menuai itu. Damai rupanya seperti padi. Ia harus ditanam, dirawat dan dijaga sebelum akhirnya dipanen.
Kini metafora itu menjadi nyata. Saleh benar-benar memasuki dunia orang menanam dan menuai.
Saya kembali banyak berinteraksi dengannya ketika pandemi Covid-19. Saat itu saya mendampingi Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo. Saleh, yang menjabat Kasdam Jaya, mendapat tanggung jawab besar dalam penanganan Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Nyaris hampir setiap hari kami bersama. Apalagi saya dan Doni Monardo menginap di lantai 10 Graha BNPB.
Ia bahkan ikut terpapar Covid. Setelah pulih, ia kembali bekerja. Dari pandemi itu ada pelajaran sederhana, bahwa operasi sebesar apa pun akan lumpuh tanpa logistik dan kolaborasi.
Pertanian pun demikian. Benih membutuhkan pupuk. Pupuk membutuhkan distribusi. Tanaman membutuhkan air. Produksi membutuhkan pasar. Petani membutuhkan harga yang layak. Semua harus bergerak dalam satu irama.
Doni, Sagu dan Papua