JAKARTA - Greenpeace Indonesia mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia periode Januari–September 2026 mencapai 1,9 juta hektare. Angka dari analisis Nusantara Atlas ini berbeda jauh dibanding data resmi pemerintah yang mencatat karhutla hanya sekitar 200 ribu hektare hingga Agustus 2026, Kamis (22/10/2026).
Kepala Global Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik, mengatakan angka tersebut merujuk pada analisis Nusantara Atlas yang hasilnya dirilis pada 21 Oktober 2026.
“Di mana dari Januari sampai dengan bulan September kebakaran hutan dan lahan di Indonesia itu mencapai 1,9 juta hektare,” kata Kiki dalam program INTERUPSI bertajuk Siapa di Balik Kebakaran Hutan? di iNews, Kamis (22/10/2026).
Kiki menyebut luas karhutla berdasarkan analisis tersebut lebih besar dibandingkan pada 2019 yang mencapai 1,6 juta hektare.
Dia mengatakan, angka yang disampaikan Greenpeace berbeda dengan data pemerintah. Diketahui, berdasarkan data resmi pemerintah melalui sistem SiPongi Kementerian Kehutanan, akumulasi luas karhutla pada Januari–Juli 2026 tercatat 202.004,30 hektare. Angka tersebut mencapai 202.010 hektare hingga Agustus 2026.
Selain mengacu pada analisis Nusantara Atlas, Greenpeace juga menggunakan berbagai sumber data, termasuk NOAA, untuk mengidentifikasi titik sumber asap.
Kiki mengatakan Greenpeace menemukan 11.632 titik sumber asap pada periode 4 Agustus hingga 18 Oktober 2026.