Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Rumah Karib Charles Darwin Ditemukan di Ternate

Rival Fahmi , Jurnalis-Kamis, 27 November 2008 |14:24 WIB
Rumah Karib Charles Darwin Ditemukan di Ternate
Alfred Russel Wallace/ucl.ac.uk
A
A
A

TERNATE - Setelah sekian lama dilacak oleh berbagai pakar peneliti sejarah, rumah tempat kediaman Alfred Russel Wallace, seorang peneliti asal Inggris, selama menetap di Ternate, akhirnya ditemukan.

"Bertahun-tahun dicari, ternyata rumah milik Wallace adalah yang saat ini dijadikan kantor KUD Halmahera Jaya tepat di hadapan kantor KPUD Ternate," kata Walikota Ternate Syamsir Andili pada okezone di ruang kerjanya, Kamis (27/11/2008).

Bangunan rumah yang merupakan peninggalan Belanda di Jalan Nuri, kelurahan Santiong, Ternate Tengah itu, diduga kini telah berganti rupa karena sudah lama dibongkar dan diganti bangunan baru.

"Dari surat Wallace yang dikirimkan pada Charles Darwin (pencetus teori evolusi) disebutkan, dirinya tinggal di sebuah rumah yang diberikan pengusaha hasil bumi asal Belanda bernama Duvent Boden yang jaraknya tak jauh dari pantai dan pasar yang jika berjalan kaki bisa ditempuh dalam lima menit," terang Syamsir.

Menurut Syamsir, dengan adanya bukti baru itu, praktis bisa menghapus kontroversi seputar rumah peneliti yang berkat hasil penelitiannya di nusantara bisa memperkuat teori Darwin itu.

"Sebelumnya, banyak yang beranggapan Wallace mendiami salah satu bangunan tua di dekat kedaton Sultan Ternate yang berhadapan dengan mesjid Sultan Ternate di kelurahan Soa Sio," jelasnya.

Namun, berdasarkan data yang diperoleh dari dokumen-dokumennya, Wallace tak mungkin tinggal di kawasan itu. Pasalnya, pada masa lalu, kota Ternate dibagi dalam dua wilayah, Swapraja dan Guvernoor.

"Daerah Swapraja yakni batas daerah kesultanan mulai dari sisi benteng Fort Oranje kearah selatan kota dan waktu itu orang asing (bule) dilarang untuk tinggal dalam batas Swapraja.

Selain itu, dalam bukunya juga yang memperkuat bukti bahwa Wallace tingga di daerang Santiong yakni setiap hari dia selalu melihat pedagang buah berjalan menuju pasar untuk berjualan.

Termasuk, disamping rumahnya yang terdapat sebuah sumur yang airnya segar dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak.

"Depan kediamannya justru terdapat benteng bukan masjid atau keraton. Bahkan bekas tembok yang diduga sisa benteng masih bisa ditemukan termasuk sumur yang dimaksudkan," tegas Syamsir.

Atas penemuan itu, Pemkot Ternate berencana untuk membangun museum Wallace di rumah tersebut.

"Pemilik rumahnya sudah setuju untuk membebaskan rumah tersebut karena ini bagian dari sejarah dunia yang patut dipertahankan," kata Syamsir.

Selain itu, untuk menghormati tokoh yang tiba di Ternate pada 8 Januari 1858 atau tepat 150 tahun lalu itu, Pemkot berencana mengganti jalur Jalan Nuri menjadi jalan Alfred Russel Wallace.

Sekedar catatan, Wallace sendiri adalah ilmuan asal Inggris yang melakukan penelitian tentang flora dan fauna di belahan Nusantara yang memiliki gagasan tentang bagaimana spesies berubah bentuk dari pendahulunya sehingga menjadi lebih kuat dan sempurna.

Sebelum menemui teori tersebut, selama bertahun-tahun Wallace sempat berusaha mencari jawaban dari pertanyaan dunia saat itu dengan melakukan perjalanan ke Nusantara yang dinamainya the Malay Archipelago.

Akan tetapi secara mendadak sekaligus tiba-tiba, Wallace menemukan jawabannya. Dan kesimpulan itu justru didapat saat tengah terbaring lemah terserang malaria di Ternate (Februari 1858). Dia menyimpulkan, "Spesies yang mampu bertahan hanya mereka yang paling kuat dan sehat saja, sementara yang lemah dan tidak sempurna akan punah."

Hasil temuannya itu lalu dikirimkan dalam bentuk surat pada rekannya yang juga tengah mencari jawaban atas pertanyaan yang sama yakni Charles Darwin.

Lewat sepucuk suratnya yang diberi judul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type, telah mendorong Darwin untuk mengemukakan teori tentang evolusi yang dikenal hingga saat ini.

Surat-surat Wallace itu belakangan termasyur dengan sebutan Ternate Paper atau A Letter From Ternate (Surat dari Ternate) di mana Wallace mencetuskan cikal bakal teori itu pada Darwin.

Wallace juga menarik kesimpulan bahwa ada semacam garis yang memisahkan flora-fauna di barat dan timur Nusantara. Sehingga ada batas antara flora-fauna di barat yang lebih mirip margasatwa di Asia dengan flora-fauna di timur yang mulai berbau Australia. Dia berhipotesa bahwa garis pemisah itu membentang mulai dari Selat Lombok ke arah Selat Makasar, kemudian membelok ke arah timur melewati Mindanao (masuk wilayah Filipina) dan Sangihe.

(Fitra Iskandar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement