tragedi sukhoi

NEWS » News

Soal BLT, Kubu Mega-Prabowo Tuding Menkeu Bohong

Selasa, 23 Juni 2009 03:48 wib

JAKARTA - Kubu Mega-Prabowo ternyata cukup gerah dan menyesalkan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang mengatakan bahwa dana bantuan langsung tunai (BLT) tidak diambil dari utang, tapi dari kompensasi bahan bakar minyak (BBM).

Dengan pernyataan tersebut, Sri Mulyani yang selama ini memegang kendali arus lalu-lintas dana negara, dianggap kubu Mega-Prabowo tidak bersikap independen menjalankan tugasnya.

"Pemerintah jangan tambah lagi bohongnya. Saya lebih percaya Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mengatakan BLT itu dari utang. Selama Ketua BPK tak menarik pernyataannya, maka Menkeu itu bohong," kata Anggota Tim Sukses Mega Prabowo Jackson Kumaat di di kantor Bappilu Mega-Pro, Jalan Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2009).

Lebih lanjut Jackson mengatakan, pernyataan Menkeu hanya menambah kebohongan pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono, yang sudah tidak jujur dengan sumber dana BLT. Pihaknya berharap, Menkeu bersikap tegas dengan meminta Anwar Nasution melakukan klarifikasi, daripada hanya sebatas bicara kepada pers.

"Polemik sumber dana BLT hanya membuat kebingungan masyarakat. Mudah-mudahan publik semakin cerdas, siapa yang layak bicara masalah keuangan negara," kata dia.

Menurut Jackson, publik jangan sampai dibuat bingung dengan komentar-komentar pejabat publik, apalagi hal ini terkait masalah keuangan negara dan masa depan bangsa. Sudah saatnya, Sri Mulyani dan Anwar Nasution bicara bersama, untuk memberi penjelasan resmi tentang sumber dana BLT.

"Saya sih lebih percaya Ketua BPK, kan BPK yang berwenang mengaudit dana negara. Pernyataan Bu Menkeu hanya membuat pemerintah kehilangan kepercayaan rakyat," kata Jackson yang juga Sekjen Barindo Raya. Dia berharap, pemerintah segera mengatakan yang sebenarnya tentang asal dana BLT.

Selain itu, Menkeu juga perlu melakukan klarifikasi tentang utang IMF dengan bunga 4 persen dan diklaim telah dilunasi, Jackson menuding pemerintah menggunakan utang baru senilai Rp400 trilyun, dengan bunga 12-13 persen. Utang negara atas IMF, kata Jackson, memang sudah lunas, tapi kini muncul utang baru yang bunganya luar biasa tinggi.

"Kami prihatin dengan klaim pelunasan utang IMF. Ini kan mirip pepatah 'lepas dari mulut buaya pindah ke mulut harimau'. Kami harap jangan lanjutkan kebohongan ini," tegas Jackson.
(Iman Rosidi/Trijaya/hri)