Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mantan TKI: Saya Ditertawai saat Telepon Pejabat

Maria Ulfa Eleven Safa , Jurnalis-Selasa, 30 Juni 2009 |03:06 WIB
Mantan TKI: Saya Ditertawai saat Telepon Pejabat
A
A
A

JAKARTA - Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang lolos dari praktik perdagangan manusia di Irak, Elly Anita kecewa terhadap pemerintah Indonesia ketika peristiwa yang dialaminya terjadi akhir 2007 silam. Elly menuturkan ketika dirinya berjuang lolos dari perbudakan modern itu pemerintah Indonesia sama sekali tidak membantu proses dari awal hingga pemulangan dirinya hingga ke Indonesia.

"Waktu itu saya telepon pejabat Departemen Luar Negeri di Irak dia hanya bilang sabar atau kabur, begitu berkali-kali setiap saya telepon," ujar Elly kepada wartawan  usai menerima penghargaan Pahlawan Anti-Trafficing di Indonesia di Kantor Duta Besar Amerika Serikat, Jakarta, Senin (29/6/2009).

Perempuan yang kini aktif di Migran Care itu pernah dijual seharga USD 4.500 di Irak. Saat Irak tengah bergejolak, Elly pernah terperangkap di Kurdistan. Tapi dia berhasil menyelamatkan diri dan menyelamatkan 16 orang temannya. Elly yang hanya tamatan Sekolah Dasar itu berjanji untuk tidak berhenti memerangi perdagangan manusia.

Kisah perempuan kelahiran Jember bermula dari tahun 2006 silam. Elly yang pernah bekerja di Malaysia dan Hongkong ini mendaftarkan diri melalui PJTI menjadi sekretaris di Dubai. Administrasi pun diurus tapi tanpa alasan yang jelas dirinya tak kunjung diberangkatkan.

"Ada seorang teman yang mau bantu menerbangkan saya, tapi kenyataanya sampai Dubai saya malah dapat masalah karena paspor dan visa saya beda, saya pun ditahan semalam di Dubai International Airport," terangnya.

Setelah membuat surat pernyataan Elly pun dikeluarkan dan dititipkan di penyalur Dubai. Di penyalur tersebut Elly mengaku diasingkan karena pekerjaan yang dipilihnya berbeda dengan para pekerja yang ada di penyalur tersebut. "Saya kan melamar jadi sekertaris sedangkan semua yang ada disitu melamar jadi pekerja rumah tangga," imbuhnya.

Di tempat itu, dia mengaku diperlakukan tidak senonoh oleh majikannya namun dia berhasil menghindar. "Saya mulai komplain kenapa setelah dua bulan saya tidak kunjung dipekerjakan tapi akhirnya majikan saya memberangkatkan saya ke Kurdistan," kata dia.

Ternyata, kata dia, majikannya telah membohonginya dengan mengatakan bahwa Kurdistan merupakan negara bagian dari Italia. "Padahal masih bagian dari Irak dan saya dijual sebesar USD 4.500," ujar perempuan yang menghabiskan masa remajanya itu di Lampung berkaca-kaca.

Di Kurdistan, Elly bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan digaji USD 200, dua bulan berikutnya gajinya tak dibayarkan. "Saya telah menghubungi Departemen Luar Negeri di Kurdistan tapi orang-orang itu malah menertawakan saya," kata dia. Merasa terkatung-katung Elly pun memutuskan untuk kembali ke penyalur awal. "Di sana saya dianiaya, dipukul, ditodong pistol dan tidak diberi makanan," kenangnya.

Elly tak kehabisan cara, di penyalur ini dia sering memakai telepon genggam sekuriti diam-diam untuk menghubungi kedutaan Indonesia di Dubai. Bahkan, akibat perbuatannya itu dia pernah dipukuli dan dicekik hingga lehernya tidak bisa digerakkan selama satu minggu. Namun dia tidak menyerah dan terus memakai telepon sang sekuriti untuk meminta bantuan kepada siapapun.

"Saya menghubungi teman-teman saya dan teman saya memberitahukan sebuah NGO International IOM dan Migrant Care untuk meminta bantuan, saya senang akhirnya bisa pulang juga ke Indonesia dan saya berjanji akan terus memerangi perbudakan modern ini sampai kapanpun," tutupnya.

(Fitra Iskandar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement