Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pengamat: Wajar Golkar Tinggalkan Koalisi

Insaf Albert Tarigan , Jurnalis-Minggu, 14 Februari 2010 |09:00 WIB
Pengamat: Wajar Golkar Tinggalkan Koalisi
Foto : Daylife
A
A
A

JAKARTA - Partai Golkar tidak memiliki ikatan emosianal dan sejarah dengan koalisi partai politik pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Tali pengikat Golkar dalam koalisi hanya kepentingan pragmatis yang gampang terlepas seiring bergesernya kepentingan tersebut.
 
Demikian dikatakan pengamat politik Universitas Indonesia Arbi Sanit menanggapi pernyataan Ketuaa DPP Golkar Priyo Budi Santoso. Dalam sebuah acara diskusi kemarin, Priyo mengatakan Golkar siap hengkang dari koalisi jika hubungannya dengan Partai Demokrat semakin memburuk akibat perbedaan sikap dalam kasus Bank Century.
 
“Wajar dan mungkin saja Golkar keluar dari koalisi. Karena mereka hanya koalisi tempelan, bukan koalisi sejak sebelum pemilu terutama  pemilu presiden tapi setelah pemilu, setelah kalah dan ketua umumnya diganti,” ujar Sanit kepada Okezone, Minggu (14/2/2010).
 
Hal itu menurut dia sangat berpengaruh terhadap soliditas koalisi. Golkar yang tidak ikut berjuang dan “berkeringat” bersama Demokrat untuk memenangkan Yudhoyono seperti tidak punya beban untuk meninggalkan koalisi.
 
“Mereka koalisi hanya untuk meneruskan tradisi Golkar yang selalu berkuasa sejak dibentuk oleh Soeharto. Ketika kekuasaannya diancam, dia lari keluar,” kata Sanit.
 
Pragmatisme itu pulalah yang menurut dia menjadi dasar Yudhoyono tetap mempertahankan Aburizal Bakrie, ketua umum Golkar saat ini, dalam Kabinet Indonesia Bersatu I meskipun ketika itu kinerja Aburizal jelek.
 
Seperti diketahui, Aburizal hanya digeser dari pos Menteri Koordinator bidang Perekonomian menjadi Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat.
 
“Yudhoyono mempertahankan dia hanya untuk mendapat dukungan Golkar saja waktu itu,” jelasnya.
 
Meskipun demikian, goyahnya koalisi saat ini, menurut Sanit adalah karena kesalahan Yudhoyono. Sebab, sejak dilantik dia terlalu sibuk mengurusi program 100 hari pemerintahannya. “Dia lupa membangun koalisi yang kompak. Jadinya ketika ada masalah koalisi ini goyang karena berbeda sikap,” katanya.
 
Lebih jauh Sanit menjelaskan, kalaupun Golkar benar-benar menarik diri dari koalisi, pemerintahan Yudhoyono masih akan berjalan efektif 5 tahun ke depan. “Saya kira perbandingan pemerintah dengan oposisi masih 60 dibanding 40 jadi masih bisalah,” katanya.

(Hariyanto Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement