JAKARTA - Munculnya tudingan adanya kartel politik di lingkar kekuasaan yang disampaikan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu membuat geram para politisi. Tetapi berbeda untuk politisi Partai Golkar Aziz Syamsudin.
"Saya tanggapi hal itu biasa-biasa saja," ujar Aziz saat diskusi di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (21/5/2010).
Namun Aziz juga mempertanyakan, mengapa Sri Mulyani mengungkapkan tudingan tersebut setelah dia mengundurkan diri dari jabatannya. Wakil Ketua Komisi III ini menduga, jika tudingan ini sebagai bentuk sakit hati Sri Mulyani terhadap para politisi.
"Kita harusnya prihatin dengan kondisi seperti ini, mengapa sudah mundur baru mau membongkar politik antara penguasa dan pengusaha. Orang menjadi pengusaha dan politisi kan tidak dosa, jangan sampailah asumsi atau penilaian orang itu, nanti bisa membawa fitnah," tegasnya.
Keberadaan kartel politik seperti yang diungkapkan Sri Mulyani, menurut Aziz sebenarnya tidak tepat. Jika terdapat kartel politik, maka tidak ada lagi istilah oposisi dan koalisi. Karena kartel itu merupakan suatu bentuk keputusan yang ditentukan oleh elit politik.
Istilah kartel politik diungkap Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum soal "Kebijakan Publik dan Etika Publik" di Ritz-Carlton, Jakarta, beberapa hari lalu. Dalam kuliah umum itu, wanita lulusan University Illinois ini mengungkapkan jika pengunduran dirinya dari jabatan Menteri Keuangan dikarenakan kalkulasi politik.
Kalkulasi politik ini dianggap Sri merupakan perkawinan keputusan antara politik dan pengusaha. Bahkan dia juga menganggap keputusannya mundur bukan merupakan kekalahan dari kartel tersebut. Namun merupakan kemenangan. Karena Sri tidak berhasil didikte dengan apa yang disebut kartel tersebut.
(hri)