Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penggunaan Kalimat Pemerintah Bohong Berlebihan

Tri Kurniawan , Jurnalis-Senin, 17 Januari 2011 |08:14 WIB
Penggunaan Kalimat Pemerintah Bohong Berlebihan
Ilustrasi (Foto: Koran SI)
A
A
A

JAKARTA - Kritik para tokoh lintas agama terhadap pemerintah dengan menuding pemerintah berbohong menuai banyak komentar.

Pengamat politik Muhammad AS Hikam mengatakan penggunaan kata bohong yang di gunakan tokoh lintas agama dalam menyampaikan kritik terlalu berlebih-lebihan.

"Kalau hanya SBY belum mampu menjalankan amanat rakyat kan masih ada waktu empat tahun tapi penggunaan kata berbohong itu mempunyai konotasi yang berbeda," terangnya saat dihubungi okezone, Senin (17/1/2011).

Dia mengatakan sebagai tokoh agama pesan-pesan yang disampaikan ke masyarakat tentu mempunyai pengaruh yang luar biasa, jika berucap tentu akan diikuti masyarakat. "Tokoh agama ini punya pengaruh yang luar kalau meludah, ludahnya seperti api saking dahsyat pengaruhnya dan itu bisa saja diikuti masyarakat," katanya.

Pria yang pernah menjabat menteri pada era Presiden Gus Dur ini menyarankan jika tokoh agama mau mengkritik jangan menggunakan kata-kata yang kontroversi. "Kalau mau mengajak kebaikan harus menggunakan kata-kata yang baik," cetusnya.

Lebih jauh, Hikam menyatakan tuduhan bahwa Pemerintah SBY berbohong sangat tidak etis dan tidak pada tempatnya. Kendatipun para penuduh tidak punya agenda politik, tetapi jelas hal itu berimplikasi delegitimasi politik terhadap Pemerintah.

“Saya sangat tidak sependapat dengan istilah bohong, tetapi lebih tepat belum atau tidak terpenuhinya janji-janji politik Pemerintah SBY. Kebohongan memiliki unsur kesengajaan dan pidana,” tandasnya.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement