JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan, bahwa mantan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah orang Sunni.
Menurutnya, orang Sunni itu sifatnya melindungi semua pihak, bukan memerangi. "Jadi, justru Beliau (Gusdur) itu Sunni, orang Sunni itu melindungi semua pihak. Siapapun yang dizalimi, Sunni akan melindungi," ucapnya dengan singkat kepada okezone di Jakarta, Senin (2/1/2012) malam.
Meski sebelumnya, Ketua Badan Hukum dan HAM Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Maheswara Prabandono mengatakan, bahwa Gus Dur sebenarnya adalah bermazhab Syiah, Said Aqil tidak ingin membicarakan terlalu jauh. “Nanti saja yah, kita bahas di kantor PBNU,” jelas Said Aqil sambil berlalu.
Sebelumnya, dalam keterangannya, Ketua Badan Hukum dan HAM IJABI Maheswara menyatakan, bahwa Almarhum Abdurrahman Wahid adalah bermazhab Syiah. Hal itu terlihat dari apa yang dipraktikan dan cara membina hubungan dengan Iran.
"Gus Dur sebenarnya Syiah. Kami merasa dari apa yang dia praktikan dan cara dia membina hubungan dengan Iran," kata Maheswara usai jumpa pers di kantor pusat IJABI di Jakarta, Sabtu (31/12/2011).
Gus Dur sebagai cucu KH Wahid Hasyim secara tradisi dan ibadah, NU sangat dekat dengan ajaran Syiah, karena yang dipraktekan NU cara Syiah. "Misalnya mengambil berkah atau tabaruk ke ziarah kubur ke makam wali. Itu aslinya ajaran Syiah," pungkasnya.
Selain itu, organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid saat menjadi Presiden RI ke-4.
Sementara, Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.
"Pada jaman Gus Dur, dia menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang," ujarnya. (amr)
(ful)