JAKARTA - Belakangan isu masalah rokok ramai diperbincangkan. Mulai dari rencana peraturan pemerintah tentang pengamanan produk tembakau sebagai zat adiktif bagi kesehatan sampai perihal fatwa haram.
Menurut Salamudin Daeng, seorang penulis dan peneliti, isu kesehatan yang diproklamirkan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tersebut adalah sebagai upaya dari perusahaan-perusahaan farmasi besar untuk mengalihkan para perokok kepada produk yang mereka buat yang dikhususkan bagi para perokok.
"Berbagai isu kesehatan tersebut, sebenarnya hanyalah seperti dalil dari keinginan perusahaan-perusahaan farmasi asing untuk dapat mengalihkan konsumen rokok (kretek) untuk beralih ke berbagai produk yang telah mereka keluarkan yang memang ditujukan untuk perokok," jelas Daeng dalam dalam diskusi yang digelar Komunitas Kretek Jakarta dan Megaria Center, Jakarat, Kamis (19/1/2012).
Oleh karena itu, menurutnya perlu kewaspadaan karena dianggap akan mematikan para pengusaha dan petani tembakau, khususnya yang berskala kecil. "Serangan-serangan dari modal asing inilah yang harus diwaspadai, karena kehadiranya jelas sangat memberikan kerugian dalam jangka panjang," ungkapnya.
Selain itu, Fuad Bawazier, mantan menteri keuangan mengatakan bahwa potensi kemandirian ekonomi nasional sangat besar jika industri kretek bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
"Industri kretek juga cukup mampu bertahan dari serangan 'rokok putih', dimana industri-industri lain sudah dengan mudahnya mampu dikuasai oleh kekuatan asing," ujarnya.
"Hal tersebut terjadi karena memang asing sangat mudah menguasai. Dan yang cukup berbahaya adalah semangat nasionalisme dan perjuangan ini sudah hilang digantikan oleh pragmatisme dan konsumerisme," jelasnya.
(fer)