tragedi sukhoi

FPI Serbu Kantor Perwakilan Kalteng di Kwitang

Bagus Santosa - Okezone
Jum'at, 17 Februari 2012 17:13 wib
Ilustrasi (Foto: Runi S/okezone)
Ilustrasi (Foto: Runi S/okezone)

JAKARTA - Puluhan anggota Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) mendatangi kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Mereka yang datang dengan konvoi motor itu dikawal polisi dan tiba sekira pukul 14.30 WIB.

Namun, mereka dihadang sejumlah warga Kwitang yang menolak kedatangan mereka. Hanya lima perwakilan saja yang diizinkan polisi mendatangi Kantor Perwakilan Pemerintahan Provinsi Kalimantang Tengah, di Jalan Kembang 1 Nomor 1, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Di antaranya adalah pimpinan FPI Jakarta Habib Salim Al Atas alias Habib Selon, M Subhan, dan Supriyadi.

Dalam pertemuan di pelataran Kantor Perwakilan Pemprov Kalteng, mereka menandatangani sebuah surat perjanjian soal kekecawaan FPI terhadap ditolaknya mereka di Kalimantan Tengah.

"Kesempatan kali ini kami bersilaturohim ingin menyampaikan kekecewaan kami dengan apa yang terjadi di Palangkaraya," kata Habib Selon, Jumat (17/2/2012).

Menurut Selon, di balik kejadian penolakan di Palangkaraya tersebut ada kejahatan yang terorganisir dan dipelopori oleh Gubernur dan Kapolda Kalimantan Tengah.

"Dimana kejahatan itu ada percobaan pembunuhan oleh yang diotaki Teras Narang (Gubernur Kalteng), Sunjaris (Sekda Pemprov Kalteng) sebagai operator aksi, serta Danius Jecky (Kapolda) karena menjadi pelindung dan pembiaran aksi," terang Selon.

Kedatangan FPI dan LPI ini ditolak warga sekitar. Sejumlah warga yang sebagian besar terdiri atas ibu-ibu dan anak-anak ini menggelar demonstrasi kecil di samping Toko Buku Gunung Agung, Kwitang. Mereka membawa karton bertuliskan, "Kami Cinta Damai", "Tolong...Tolong...Tolong...Kami Warga Kwitang Rindu Kedamaian, Jangan Diprovokasi".

Sementara sejumlah personel polisi dari Polres Metro Jakarta Pusat dan petugas Brimob Polda Metro Jaya tampak berjaga di sekitar lokasi. Di antara mereka tampak Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol dan Kasat Reskrim AKBP Hengki Haryadi.

(lam)

  • anjasa » 0 Tanggapan
    warga lain juga sebaiknya melakukan apa yang dilakukan warga kwitang,demi kenyamanan wilayah masing masing dari tindakan semena mena dari kelompok lain
    Beri Tanggapan Laporkan
  • wanto » 0 Tanggapan
    FPI, sadarlah kekerasan bukan jalan yang benar. Kebringasan, emosi, marah adalah wujud kebodohan dan kemalasan berfikir. Kekerasan - perang akan memakan korban. Jalan musyawarah - demokrasi - Konstitusi lebih bermartabat. Ingat i***m mengajarkan kesabaran & perdamaian. Wahai para pemimpin dan pengikut FPI, belajarlah i***m secara kaffah. "Nafsu Politik" telah membutakanmu. Kembalilah ke jalan yang benar. "Kekerasan akan Menyulut Peperangan" ingat itu.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • agus » 0 Tanggapan
    bagus bib sama sama ,kita kisas
    Beri Tanggapan Laporkan
  • agus » 0 Tanggapan
    bagus bib sama sama ,kita kisas
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Borneo » 0 Tanggapan
    Bubarkan FPI, melakukan kebaikan bukan dengan cara kekerasan, emang ada kitab yang mengajarkan kekerasan, dan kalau mau melakukan kekerasan jangan cuma dengan rakyat kecil yang tidak berdaya main keroyokan lagi, sekarang baru di tolak sudah kayak anak kecil ngadu sama mama bapaknya...hahaha #Lemah kalau sudah di tolak di kalteng jangan berani memaksakan diri coba untuk datang-datang, sudah nonton sampit belum...
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.