Ketua RUU Pemilu menyerahkan hasil rapat ke Pimpinan DPR (foto:okezone)
JAKARTA - Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu Arif Wibowo beranggapan, pemilu sistem terbuka menjadikan partai tidak maksimal. Kaderisasi juga tidak akan berjalan.
Dia memastikan, dengan sistem tersebut kaderisasi tidak akan berguna, karena terlalu banyak kursi. “Jadi partai semacam ini mirip club sepak bola, terlalu gambling,” ujarnya dalam diskusi Polemik Sindo Radio, bertema UU Pemilu Bikin Pilu, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (14/04/2012).
Anggota Komisi II ini menambahkan, dengan UU Pemilu yang baru maka akan menciptakan sebuah kompetisi baru, termasuk kompetisi di dalam internal partai sendiri.
"Dengan hasil UU itu, kita memperebutkan kekuasaan, kompetisi yang jor-joran. Kalau terbuka justru memilih kucing garong," imbuh Arif.
Karena menurutnya dalam sistem proporsional terbuka, maka kader yang memiliki kemampuan bagus bukan jaminan untuk dia dapat menang dalam pemilu.
"Bayangkan, seorang yang dianggap partainya baik, tapi dia harus dikalahkan oleh kader lain, yang kemampuan di bawah, tapi populer dan punya uang," jelasnya.
Lebih lanjut, kata Arif, mengapa fraksi PKS ngotot memilih sistem tertutup agar dapat meminimalisir biaya pemilu yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah, ataupun oleh partai politik.
"Bagaimana pemilu yang sederhana dan murah. Itu makanya minta proporsional tertutup. Juga mengenai biaya yang dikeluarkan, yakni oleh negara yang berasal dari uang rakyat dan anggaran yang dikeluarkan oleh partai," pungkasnya.(amr)
(mbs)
getting time ...
Kamis, 20 Juni 2013 01:44 WIB
Kamis, 20 Juni 2013 01:03 WIB
Rabu, 19 Juni 2013 23:38 WIB