Sakit, Indonesia Belum Merdeka Seutuhnya

|

Ilustrasi (Foto: dok Okezone)

Sakit, Indonesia Belum Merdeka Seutuhnya

JAKARTA - Kemerdekaan yang diraih Indonesia telah berusia 67 tahun. Namun, capaian itu tidak serta merta membuat Indonesia merdeka seutuhnya.

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Addin Jauharudin, mengatakan, Indonesia saat ini sedang dalam kondisi sakit. Pasalnya, banyak tokoh politik nasional dan daerah telah keluar dalam visi kebangsaan dalam menjalankan roda pemerintahannya.

"Dikelolanya Indonesia oleh para tokoh serta partai politik yang jauh dari visi kebangsaan dan visi globalnya yang mampu menempatkan Indonesia secara bermartabat dan berwibawa dalam pergaulan global menyebabkan Indonesia sakit," kata Addin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/8/2012).

Addin menuturkan, di era kepemimpinan yang diawali oleh Presiden Soekarno hingga pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid, telah menjalankan pembangunan nasional yang penuh dengan visi. Menurutnya, saat ini visi pembangunan nasional tersebut telah jauh dari praktik kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang dicita-citakan dalam UUD 1945.

"Untuk itu kita perlu dua hal untuk membuat bangsa ini maju dan juga berwibawa, yakni kedaulatan dan kemandirian. Kedaulatan secara teritorial, energi, dan pangan, dan kemandirian secara ekonomi," imbunhnya.

Kata dia, Indonesia harus berubah agar tidak terjebak terus menerus dalam kubang masalah, sepanjang tidak ada kedaulatan dalam konstitusi. Pemerintah dalam hal ini, harus meninjau ulang semua bentuk intervensi asing dalam konstitusi nasional kita dan regulasi serta kebijakan yang tidak pro rakyat.

"Siapapun pemimpinnya, ketika masalah ini tidak dituntaskan maka akan terus tersandera oleh konstitusi dan regulasi yang penuh rekayasa," jelasnya.

Selain itu, sambung Addin, juga berharap agar sistem kaderisasi partai politik diperbaiki untuk menciptakan pemimpin tangguh, berkualitas, bersih dan tidak korup.

Addin menuturkan peran partai politik sangat pentung, karena parpol sebagai instrumen kaderisasi kepemimpinan nasional dan penjaga kedaulatan bangsa, bukan pintu masuk liberasisasi nasional dan menghamba pada kepentingan asing.

Lebih lanjut, Addin menambahkan, PMII dengan semangat kebangsaan dan tanggungjwab intelektual pergerakan mengajak untuk memadukan pandangan dan menyamakan persepsi Indonesia kedepan, bahwa bangsa ini harus di bangun dengan rasa optimis dan penuh tanggungjawab.

"Indonesia bukanlah negara gagal, hanya saja dikelola oleh para pemimpin yang buruk pikiran dan salah urus," tegasnya.

(put)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    International Student Festival Menjadi Wadah Mahasiswa IKJ