BANDA ACEH - Gempa berkekuatan 6 Skala Richter mengguncang Aceh pagi tadi sekira pukul 05.22 WIB. Gempa terjadi akibat pergerakan sesar atau patahan Sumatera. Bagaimanakah terbentuknya sesar Sumatera dan sudah berapa kali gempa melanda kawasan ini?
Peneliti Geo-Hazard pada Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana Universitas Syiah Kuala (TDMRC-Unsyiah) Banda Aceh, Ibnu Rusdy menuturkan, sesar Sumatera tercipta dari tunjaman lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia yang miring sekira 45 derajat.
“Kemiringan ini menyebabkan terbentuknya sesar Sumatra dari Selat Sunda sampai dengan Kepulauan Andaman, di bagian barat provinsi Aceh. Dengan total panjang 1.900 kilometer,” katanya di Banda Aceh, Selasa (22/1/2013).
Beberapa ahli ilmu kebumian membagi patahan Sumatera dalam 19 segmen, di antaranya segmen Sunda, Semangko, Kumering, Manna, Musi, Ketaun, Dikit, Siulak, Suliti, Sumani, Sianok, Sumpur, Barumun, Angkola, Toru, Renun, Tripa, Aceh dan Seulimuem.
“Dari tahun 1892, telah terjadi 23 kali gempa darat atau sesar dengan skala di atas 6 Mw (moment magnitude) di sepanjang Sesar Sumatera,” ujar Ibnu Rusdy.
Sampai kini ada beberapa seismic gap atau kawasan jarang terjadinya gempa yang harus waspadai secara bersama. “Untuk kawasan Aceh, terdapat 3 segmen sesar Sumatera di antaranya Segmen Tripa, Segmen Aceh dan Segmen Seulimeum,” sebut anggota Himpunan Ahli Geologi Indonesia Aceh ini.
Pada segmen Seulimum pernah terjadi gempa pada 1964 dan 1975, namun berbeda dengan segmen Aceh yang sangat jarang terjadi, kecuali pada subuh tadi dengan kekuatan 6 SR. “Jarangnya terjadi gempa ini harus kita waspadai karena pada segmen ini ada energi yang belum lepas,” sebut.
Gempa 6 SR yang terjadi pagi tadi, jelas dia, ikut melepaskan energi pada sesar Sumatera segmen Aceh di kawasan Tangse-Mane-Geumpang. “Gempa-gempa susulan sangat dimungkinkan terjadi namun dalam skala yang lebih kecil dari gempa-gempa tadi pagi. Gempa-gempa susulan ini sendiri merupakan proses menuju kepada kondisi stabil,” paparnya.
Sementara itu Ketua Devisi Riset TDMRC Unsyiah, Syamsidik mengatakan, sebagai upaya mitigasi gempa bumi terjadi di darat, perlu diperhatikan pembangunan rumah yang tahan gempa dengan menggunakan bahan bangunan yang lebih ringan.
“Perlu diingat bahwa yang menimbulkan korban akibat gempa bumi adalah kejatuhan bahan-bahan bangunan seperti batu bata, plafon, lemari, atau keruntuhan total bangunan,” katanya.
Keruntuhan itu terjadi karena massa bangunan yang berat, bertemu dengan gaya horizontal akibat gempa bumi. Karena percepatan akibat gempa bumi tidak dapat dikontrol oleh manusia, maka perlu upaya dari masyarakat untuk menggunakan bahan bangunan yang lebih ringan untuk mengurangi gaya yang timbul.
“Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya pengawasan yang ketat terhadap cara-cara mendirikan bangunan, desain bangunan, serta detail konstruksi dari bangunan agar tahan terhadap gempa bumi,” ujar Syamsidik.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.